POLA JABAR – Fenomena hujan es kerap mengejutkan masyarakat karena jarang terjadi di wilayah beriklim tropis seperti Indonesia.
Meski tampak tidak biasa, hujan es sebenarnya merupakan peristiwa alam yang bisa dijelaskan secara ilmiah dan umumnya terjadi akibat kondisi cuaca ekstrem.
Hujan es atau hail terjadi ketika awan kumulonimbus (awan petir) berkembang sangat tinggi dan padat.
Di dalam awan tersebut, terdapat arus udara naik (updraft) yang sangat kuat hingga membawa butiran air ke lapisan atmosfer yang bersuhu sangat dingin, di bawah 0 derajat Celsius.
Akibatnya, butiran air tersebut membeku menjadi bongkahan es kecil. Ketika arus udara di dalam awan sudah tidak cukup kuat untuk menahannya, bongkahan es itu akan jatuh ke permukaan bumi dan disebut sebagai hujan es.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan es di Indonesia biasanya terjadi pada masa peralihan musim (pancaroba), terutama saat siang hari ketika udara sangat panas.
Panas tersebut membuat uap air naik cepat ke atmosfer dan memicu pembentukan awan kumulonimbus yang berpotensi menimbulkan hujan lebat, petir, dan hujan es.
Selain faktor awan dan suhu, hujan es juga bisa dipengaruhi oleh ketidakstabilan udara serta kelembapan yang tinggi di lapisan troposfer bagian bawah.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat, angin kencang, dan hujan es, terutama pada periode peralihan musim seperti saat ini.***