POLA JABAR – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa program beautifikasi (penataan estetika) di 17 koridor jalur wisata tidak boleh sekadar menjadi laporan di atas kertas. Memasuki Triwulan I tahun 2026, Farhan menuntut perubahan nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dan wisatawan.

Fokus utama penataan ini mencakup empat aspek krusial: kebersihan lingkungan, optimalisasi Penerangan Jalan Umum (PJU), ketertiban sosial, serta penanganan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS).

Berdasarkan hasil pemantauan lapangan, keberadaan PPKS masih menjadi tantangan besar, terutama di titik ikonik seperti Jalan Asia Afrika, ruas Masjid Agung, hingga Jalan Sudirman. Area lain yang turut disoroti adalah kawasan Simpang Lima, Tamblong, Otista, hingga area sekitar Pasar Baru.

"Kita ingin mengembalikan mereka ke daerah asalnya dengan pendekatan yang benar. Pemkot Bandung tidak ingin kota ini menjadi tempat yang membuat mereka (tunawisma) nyaman untuk tinggal di jalanan, tapi kita tetap mengedepankan sisi kemanusiaan," tegas Farhan.

Sebagai langkah konkret, operasi terpadu yang melibatkan Dinas Sosial, Satpol PP, hingga DLH telah menjaring 77 orang PPKS pada pertengahan Januari lalu. Dari jumlah tersebut, mayoritas (57 orang) berasal dari luar daerah dan kini tengah menjalani proses rehabilitasi.

Selain masalah sosial, infrastruktur jalan juga menjadi perhatian. Meski kualitas PJU di mayoritas koridor sudah membaik, Farhan memberikan catatan khusus untuk Jalan Naripan.

Ia juga mengingatkan agar rimbunnya pohon peneduh, seperti yang ada di kawasan Jalan Veteran, tidak menutupi cahaya lampu jalan. "Keindahan lanskap jangan sampai mengorbankan fungsi keamanan dan penerangan," tambahnya.

Saat ini, Dinas Perhubungan terus melakukan pemeliharaan mandiri di jalur-jalur utama seperti: