POLA JABAR - Es krim selalu identik dengan rasa manis yang memanjakan lidah. Cokelat, vanila, dan stroberi telah lama menjadi "tiga besar" yang mendominasi lemari pendingin di seluruh dunia.
Namun, jika kita melangkah lebih jauh ke berbagai sudut negara, kita akan menemukan bahwa es krim telah bertransformasi menjadi kanvas bagi eksperimen kuliner yang radikal.
Bagi sebagian budaya, es krim bukan hanya soal pencuci mulut yang manis, melainkan sebuah cara untuk merayakan bahan lokal yang tak terduga.
Berikut adalah penelusuran mendalam mengenai bagaimana berbagai negara mendefinisikan ulang arti "kesegaran" dalam setiap sendokan es krim mereka seperti dilansir dari bbc.com.
1. Jepang: Harmoni Rasa Pedas dan Gurih dalam Bekuan
Jepang memang dikenal sebagai pusat inovasi kuliner yang berani. Di sini, Anda tidak akan kesulitan menemukan es krim rasa wasabi. Berbeda dengan sensasi dingin es krim pada umumnya, es krim wasabi memberikan efek "sengatan" di hidung dan kehangatan yang kontradiktif di tenggorokan.
Tak berhenti di situ, Jepang juga memiliki es krim rasa tinta cumi (ika-sumi) yang berwarna hitam pekat dengan sentuhan rasa laut yang sedikit asin dan amis yang samar, memberikan dimensi rasa umami yang jarang ditemukan pada makanan penutup.
2. Italia: Sentuhan Tradisi dengan Bahan Dapur Utama
Italia, rumah bagi gelato, ternyata memiliki sisi eksperimental yang elegan. Di beberapa wilayah, para pembuat gelato menggunakan minyak zaitun (olive oil) kualitas premium sebagai bahan utama. Hasilnya adalah tekstur yang luar biasa lembut dan creamy dengan aroma herbal yang kuat.