POLA JABAR - Kepiting seringkali menjadi primadona dalam hidangan laut. Tekstur dagingnya yang lembut dan rasa manis alaminya membuat banyak orang sulit menolak. Namun, di balik kelezatannya, kepiting menyimpan risiko kesehatan serius bagi sebagian orang. Alergi makanan laut, khususnya terhadap krustasea seperti kepiting, udang, dan lobster, merupakan salah satu jenis alergi yang paling umum sekaligus paling berbahaya.
Merujuk pada data dan edukasi dari Mayo Clinic, alergi ini tidak bisa dianggap remeh karena sifatnya yang sering kali menetap seumur hidup dan dapat memicu reaksi fatal.
Mengapa Tubuh Menolak Kepiting?
Alergi makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh salah mengidentifikasi protein tertentu dalam makanan sebagai ancaman. Pada kasus kepiting, protein bernama tropomiosin biasanya menjadi pemicu utama.
Saat seseorang yang alergi mengkonsumsi kepiting, sistem imun akan melepaskan antibodi imunoglobulin E (IgE) untuk menetralkan protein tersebut. Pada konsumsi berikutnya, antibodi ini memberi sinyal pada sistem imun untuk melepaskan histamin dan bahan kimia lainnya ke dalam aliran darah, yang kemudian menyebabkan munculnya gejala alergi.
Gejala yang Perlu Anda Waspadai
Reaksi alergi kepiting bisa muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah makan. Gejalanya sangat bervariasi, mulai dari yang ringan hingga mengancam nyawa. Berikut adalah tanda-tanda yang sering muncul:
Reaksi Kulit: Munculnya biduran (urtikaria), gatal-gatal hebat, atau eksim pada permukaan kulit.
Gangguan Pencernaan: Sakit perut, kram, mual, muntah, hingga diare tak terkendali.