POLA JABAR - Masa kehamilan sering kali dipenuhi dengan daftar panjang mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dimakan. Salah satu buah yang sering menjadi perdebatan di kalangan calon ibu adalah anggur. Di satu sisi, anggur dikenal kaya akan vitamin, namun disisi lain, ada kekhawatiran mengenai kandungan senyawa tertentu di dalamnya.

Merujuk pada standar kesehatan dari National Health Service (NHS) Inggris, sebenarnya tidak ada larangan mutlak bagi ibu hamil untuk mengkonsumsi anggur. Namun, ada beberapa catatan penting terkait porsi, kebersihan, dan kondisi kesehatan tertentu yang wajib diperhatikan.

Kandungan Nutrisi yang Menguntungkan Bumil

Secara umum, anggur adalah sumber nutrisi yang baik. Buah ini mengandung vitamin C dan vitamin K yang berperan penting dalam mendukung sistem kekebalan tubuh ibu serta membantu proses pembekuan darah yang sehat. Selain itu, serat yang terkandung dalam kulit anggur dapat membantu mengatasi salah satu masalah klasik kehamilan: sembelit.

Kandungan antioksidan seperti flavonol, linalool, dan antosianin juga membantu tubuh melawan radikal bebas. Namun, dibalik manfaat tersebut, ada alasan mengapa para ahli menyarankan konsumsi yang moderat.

Kontroversi Resveratrol dan Kulit Anggur

Alasan utama mengapa beberapa pakar menyarankan pembatasan anggur selama kehamilan adalah adanya senyawa bernama Resveratrol. Senyawa ini banyak ditemukan pada kulit anggur, terutama anggur merah dan hitam.

Beberapa penelitian laboratorium menunjukkan bahwa konsumsi resveratrol dalam dosis tinggi yang ekstrem berpotensi mempengaruhi perkembangan kelenjar pankreas pada janin. Meskipun penelitian ini masih terus berkembang dan belum terbukti sepenuhnya terjadi pada manusia melalui konsumsi buah segar, NHS tetap mengimbau agar ibu hamil tidak berlebihan dalam mengkonsumsi buah yang memiliki kulit tebal dan kaya senyawa aktif ini.

Masalah Kadar Gula dan Keasaman