POLA JABAR - Meskipun sering disajikan bersama di meja makan dan sama-sama dikenal sebagai umbi-umbian yang kaya karbohidrat, ubi jalar (sweet potato), yam, dan talas (taro) sebenarnya adalah tiga spesies tanaman yang sama sekali berbeda dalam klasifikasi botani, yang jarang disadari oleh masyarakat umum. Perbedaan utama terletak pada famili, genus, dan bagian tanaman yang dikonsumsi. Ubi jalar (Ipomoea batatas) adalah anggota dari famili Convolvulaceae atau keluarga morning glory.
Bagian yang kita makan adalah akar yang membesar (tuberous root), yang berfungsi sebagai organ penyimpan makanan. Sebaliknya, yam sejati (dari genus Dioscorea) termasuk dalam famili Dioscoreaceae. Yang dimakan dari yam adalah batang bawah tanah yang membesar (disebut true tuber).
Sementara itu, talas (Colocasia esculenta) berasal dari famili Araceae, yang juga merupakan keluarga tanaman hias seperti aglaonema dan anthurium. Bagian utama talas yang dimakan adalah bonggol atau umbi batang bawah tanah (corm), dan tanaman ini juga terkenal dengan daunnya yang lebar menyerupai telinga gajah. ]
Dengan demikian, melihat dari sudut pandang ilmu botani, mereka berada di pohon kehidupan yang berbeda, tidak lebih dekat hubungannya daripada kembang sepatu dengan jagung.
Perbedaan fundamental lainnya yang memisahkan ketiga umbi ini adalah struktur fisik, kandungan nutrisi, dan cara mereka tumbuh. Ubi jalar memiliki kulit tipis dan daging yang bervariasi dari putih, kuning, oranye, hingga ungu, dan cenderung memiliki rasa yang manis karena mengandung lebih banyak gula.
Umbinya tumbuh dalam kelompok yang melekat pada akar tanaman merambat di dekat permukaan tanah. Di sisi lain, yam sejati, yang umumnya tumbuh di Afrika dan Asia, memiliki kulit yang jauh lebih tebal, kasar, dan bersisik, dengan daging yang biasanya lebih bertepung dan kurang manis.
Yam juga memiliki ukuran yang sangat besar, dapat mencapai panjang hingga beberapa meter dan berat puluhan kilogram, tumbuh jauh lebih dalam di dalam tanah dan bersifat tahunan (perennial).
Sementara talas memiliki ciri khas umbi yang lebih kecil, bulat, atau silinder dengan lapisan serat halus, dan harus diolah dengan benar (biasanya dimasak) untuk menghilangkan senyawa kalsium oksalat yang dapat menyebabkan iritasi. Perbedaan fisik ini adalah hasil dari evolusi dan adaptasi pada famili botani mereka masing-masing.
Selain perbedaan botani dan fisik, ada juga isu identitas yang sering membingungkan konsumen, terutama di Amerika Utara, yang membuat pemahaman ilmiah menjadi penting. Seringkali, varietas ubi jalar berwarna oranye yang lebih manis secara keliru diberi label dan dijual sebagai yam di pasar.