POLA JABAR - Siapa yang bisa menolak kelembutan tekstur es krim yang lumer di lidah saat cuaca panas? Saat ini, es krim adalah simbol kebahagiaan universal yang bisa ditemukan di sudut jalan mana pun di dunia.

Namun, di balik popularitasnya yang masif, es krim menyimpan sejarah panjang yang melibatkan kaisar, penjelajah samudera, hingga inovasi teknologi yang mengubah cara kita menikmati hidangan penutup.

Awal Mula dari Puncak Gunung

Jauh sebelum mesin pembeku ditemukan, es krim adalah simbol kemewahan yang ekstrem. Akar sejarahnya dapat ditarik kembali ke peradaban kuno di Tiongkok dan Timur Tengah. Pada masa Dinasti Tang (618-907 M), campuran susu kerbau, tepung, dan kamper dipanaskan lalu dimasukkan ke dalam tabung logam yang dikubur di dalam kolam salju hingga membeku.

Di belahan dunia lain, para penguasa Romawi dan Persia mengirim pelari ke puncak gunung hanya untuk mengambil salju. Salju tersebut kemudian disiram dengan madu, buah-buahan, atau sirup bunga. Pada titik ini, "es krim" lebih menyerupai sorbet atau es serut mewah yang hanya bisa dinikmati oleh kaum elit karena biaya operasional logistik es yang sangat mahal.

Migrasi Rasa: Dari Asia ke Eropa

Perjalanan es krim menuju panggung global bermula dari rute perdagangan kuno. Legenda sering menyebut Marco Polo membawa resep rahasia es krim dari Tiongkok ke Italia pada abad ke-13. Meskipun kebenaran mutlak kisah ini sering diperdebatkan, tidak bisa dipungkiri bahwa Italia menjadi titik awal berkembangnya teknik pembuatan es krim modern di Eropa.

Pada abad ke-16, Catherine de' Medici membawa koki-koki terbaiknya dari Italia ke Prancis saat ia menikah dengan Raja Henry II. Di sinilah es krim mulai bertransformasi menjadi hidangan yang lebih lembut dengan penambahan krim dan telur, mendekati tekstur gelato yang kita kenal sekarang.

Revolusi Industri dan Demokratisasi Rasa