POLA JABAR - Samosa, camilan berbentuk segitiga yang renyah dan berisi, telah menjadi ikon kuliner yang tak terpisahkan dari lanskap makanan jalanan di India, khususnya di New Delhi, jantung dari India Utara. Ketika Anda berjalan di lorong-lorong padat atau pasar yang ramai di Delhi, aroma rempah yang gurih dan harum pasti akan menuntun Anda ke gerobak penjual samosa. 

Samosa New Delhi memegang tempat yang istimewa karena ia mewakili kekayaan tradisi kuliner street food di wilayah tersebut. Ciri khas utama dari samosa Delhi terletak pada kulitnya yang tebal, padat, dan renyah sempurna setelah digoreng.

Kulit ini, yang terbuat dari campuran tepung maida (tepung serbaguna) dan sedikit minyak, dibentuk menjadi kerucut segitiga yang kokoh, mampu menahan isian yang kaya rasa tanpa mudah robek. Isiannya sendiri didominasi oleh kentang rebus yang dihaluskan secara kasar (mashed potato), dicampur dengan kacang polong hijau, dan dimasak menggunakan rempah-rempah India Utara yang hangat dan aromatik, seperti bubuk mangga kering (amchur), biji ketumbar, jintan, dan garam masala. Kekuatan rasa pada isian inilah yang membuat samosa Delhi berbeda, menawarkan pengalaman rasa yang otentik dan memuaskan.

Perjalanan sejarah samosa sendiri juga menarik, menjadikannya lebih dari sekadar makanan ringan. Meskipun kini diidentikkan dengan India, Lonely Planet mencatat bahwa camilan berbentuk segitiga ini diperkirakan berasal dari Asia Tengah dan Timur Tengah, dibawa ke anak benua India oleh pedagang dan migran pada masa lalu. 

Seiring berjalannya waktu, resep ini beradaptasi dengan bahan-bahan lokal di India, dan isian daging (yang lazim di Persia) diganti dengan kentang dan sayuran di India Utara, menjadikannya camilan yang disukai oleh banyak kalangan, termasuk vegetarian. Di New Delhi, samosa telah bertransformasi menjadi comfort food yang universal. 

Biasanya, samosa ini disajikan panas-panas, baru diangkat dari minyak, dan tidak pernah sendiri. Pasangan wajibnya adalah saus pendamping: chutney hijau pedas yang terbuat dari mint dan ketumbar, serta chutney manis yang kental dari kurma dan asam jawa. Kombinasi kontras antara kerenyahan, isian yang hangat dan earthy, serta chutney yang pedas-manis inilah yang menciptakan balance rasa yang membuat samosa begitu adiktif dan dicari.

Proses pembuatan samosa, meski terlihat sederhana, membutuhkan keahlian dan kesabaran untuk mencapai hasil yang maksimal. Kunci kerenyahan terletak pada proses menggoreng yang lambat dan bertahap. Samosa biasanya digoreng dalam minyak dengan suhu sedang hingga rendah dalam waktu yang cukup lama. 

Tujuannya adalah memastikan kulit adonan matang sempurna hingga ke bagian dalam, berubah warna menjadi cokelat keemasan yang cantik, dan mencapai tekstur yang sangat renyah tanpa menjadi berminyak berlebihan. 

Suhu minyak yang tidak tepat akan membuat kulit cepat gosong di luar namun mentah di dalam, atau terlalu berminyak. Penjual samosa terbaik di Delhi dikenal karena menguasai teknik ini, menghasilkan samosa yang crispy saat digigit namun lembut dan harum di bagian isian.