POLA JABAR - Masalah pertumbuhan anak, terutama risiko stunting atau kekerdilan, masih menjadi tantangan besar di banyak negara, termasuk Indonesia. Dalam berbagai literatur kesehatan global, termasuk panduan dari World Health Organization (WHO), susu sering kali disebut sebagai salah satu asupan krusial yang mendukung fase pertumbuhan linear anak. Namun, apa sebenarnya yang membuat susu begitu istimewa bagi tumbuh kembang Si Kecil?

Susu bukan hanya sekadar minuman pelengkap. Menurut standar kesehatan internasional, susu adalah "makanan lengkap" karena mengandung kombinasi protein berkualitas tinggi, lemak, serta vitamin dan mineral. Protein dalam susu, terutama kasein dan whey, mengandung asam amino esensial yang lengkap yang sangat dibutuhkan tubuh untuk membangun jaringan otot dan memperbaiki sel yang rusak.

Selain protein, kandungan kalsium dan fosfor dalam susu berada dalam rasio yang ideal untuk diserap oleh tulang. WHO menekankan bahwa mineral-mineral ini adalah fondasi utama untuk mencapai kepadatan tulang maksimal (peak bone mass) di masa kanak-kanak, yang nantinya akan menentukan tinggi badan mereka saat dewasa.

WHO secara konsisten mempromosikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan sebagai nutrisi terbaik. Namun, setelah memasuki masa pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI), susu (baik itu ASI yang dilanjutkan atau susu pertumbuhan) tetap memegang peranan vital.

Penelitian yang sering dikutip oleh badan kesehatan dunia menunjukkan bahwa anak-anak yang mendapatkan asupan produk susu secara teratur cenderung memiliki kadar Insulin-like Growth Factor-1 (IGF-1) yang lebih tinggi. IGF-1 adalah hormon yang merangsang pertumbuhan tulang panjang. Inilah alasan mengapa konsumsi susu secara rutin sering dikaitkan dengan penambahan tinggi badan yang lebih signifikan dibandingkan anak yang kurang mendapatkan asupan produk hewani.

Banyak orang tua sering bertanya mengenai dosis yang tepat. Berdasarkan rekomendasi umum yang selaras dengan panduan gizi seimbang, anak usia 1 hingga 3 tahun disarankan mengonsumsi sekitar 2 hingga 3 porsi produk susu per hari. Satu porsi ini bisa setara dengan satu gelas susu (200-250 ml), satu cup yogurt, atau selembar keju.

Namun, WHO juga memberikan catatan penting: susu harus menjadi bagian dari diet yang beragam. Anak tetap membutuhkan asupan zat besi dari daging, serat dari sayuran, dan karbohidrat dari biji-bijian. Keseimbangan inilah yang akan menjamin penyerapan nutrisi susu menjadi lebih maksimal.

Untuk anak-anak di bawah usia dua tahun, WHO dan para ahli gizi sangat tidak menyarankan pemberian susu rendah lemak atau skim milk. Pada masa ini, otak anak berkembang sangat pesat, dan sekitar 60% dari jaringan otak terdiri dari lemak. Oleh karena itu, susu full cream atau lemak utuh sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan kognitif dan saraf mereka.

Setelah usia dua tahun, orang tua dapat menyesuaikan pilihan susu berdasarkan kondisi berat badan dan aktivitas fisik anak, namun tetap memastikan bahwa susu tersebut tidak mengandung gula tambahan yang tinggi (sugar-free).