POLA JABAR - Keju seringkali dianggap sekadar camilan berlemak, kini semakin diakui oleh para ahli gizi olahraga sebagai komponen bernilai tinggi dalam diet atlet modern, terutama karena kandungan nutrisinya yang mendukung pemulihan dan pertumbuhan otot. Peran vital keju terletak pada konsentrasi protein dan lemak sehat yang sangat tinggi dalam porsi yang relatif kecil, menjadikannya sumber kalori padat nutrisi yang efisien. 

Bagi atlet, protein adalah makronutrien yang paling penting untuk perbaikan jaringan otot yang rusak setelah sesi latihan intensif. Keju menyediakan jenis protein berkualitas tinggi, termasuk kasein dan whey

Kasein, yang merupakan mayoritas protein dalam keju, dicerna secara perlahan, melepaskan asam amino secara bertahap ke dalam aliran darah selama berjam-jam. Pelepasan berkelanjutan ini sangat ideal untuk pemulihan jangka panjang, khususnya jika dikonsumsi sebelum tidur, membantu mencegah kerusakan otot (katabolisme) saat tubuh beristirahat. 

Selain itu, keju juga kaya akan kalsium yang krusial untuk menjaga kepadatan tulang dan fungsi kontraksi otot yang optimal, dua faktor yang tak terpisahkan dari kinerja atletik yang prima.

Selain protein dan kalsium, keju juga merupakan sumber signifikan dari lemak jenuh dan tak jenuh serta berbagai vitamin larut lemak. Dalam konteks diet atlet, lemak tidak selalu menjadi musuh. Lemak adalah sumber energi padat yang esensial, terutama bagi atlet ketahanan (endurance) yang memerlukan cadangan energi stabil untuk sesi latihan yang sangat panjang. 

Lemak dalam keju juga membantu penyerapan vitamin larut lemak seperti Vitamin A, D, E, dan K yang memainkan peran dalam sistem kekebalan tubuh, kesehatan tulang, dan pemulihan sel. Jenis keju tertentu, seperti cheddar atau parmesan, juga menyediakan Vitamin B12, yang sangat penting dalam produksi sel darah merah, mengangkut oksigen ke otot-otot yang bekerja, dan menjaga fungsi sistem saraf tetap optimal. 

Dengan mengintegrasikan keju dengan bijak misalnya, keju cottage yang rendah lemak setelah latihan atau keju keras sebagai sumber kalori sebelum kompetisi panjang atlet dapat mengoptimalkan asupan energi dan pemulihan tanpa mengorbankan kualitas nutrisi.

Penting untuk dipahami bahwa tidak semua keju diciptakan sama, dan atlet modern perlu menerapkan pendekatan yang strategis dalam memilih jenis keju yang akan dikonsumsi. 

Keju bertekstur lunak seperti keju cottage atau keju ricotta sering menjadi pilihan utama pasca-latihan karena kandungan protein kaseinnya yang tinggi dan umumnya memiliki kadar lemak yang lebih rendah dibandingkan keju keras. Keju-keju ini mudah dicerna dan dapat dengan mudah dicampur ke dalam smoothie atau dikonsumsi bersama buah.