POLA JABAR - Pare, atau yang dikenal juga dengan nama Bitter Melon (Momordica charantia), adalah buah yang identik dengan rasa pahitnya. Jauh dari sekadar bahan masakan di Asia dan Karibia, pare telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional karena potensinya dalam mendukung pengobatan diabetes tipe 2. Walaupun harus selalu menjadi suplemen dan bukan pengganti obat, komunitas kesehatan termasuk diskusi yang relevan dengan panduan dari lembaga seperti Diabetes UK mengakui adanya zat aktif yang menarik perhatian dalam buah ini.
Rasa pahit yang khas pada pare ternyata berasal dari senyawa aktif yang memiliki efek signifikan terhadap metabolisme glukosa. Beberapa zat utama dalam pare yang dipelajari karena potensi antidiabetiknya meliputi:
Charantin: Senyawa yang terbukti memiliki efek penurun glukosa darah. Ini adalah salah satu kontributor utama mengapa pare dianggap sebagai makanan penurun gula darah.
Vicine: Senyawa lain yang berperan dalam efek hipoglikemik (menurunkan gula darah) buah ini.
Polipeptida-p (Polypeptide-p): Senyawa ini sering disebut sebagai "insulin nabati" karena strukturnya yang menyerupai insulin manusia, yang membantu tubuh memanfaatkan glukosa.
Cara Kerja Pare dalam Tubuh
Bagaimana pare membantu mengelola diabetes tipe 2? Efeknya diyakini bekerja melalui beberapa mekanisme, mirip dengan cara obat antidiabetes modern:
Meniru Aksi Insulin: Polipeptida-p dan senyawa aktif lainnya dapat meniru fungsi insulin. Mereka membantu glukosa untuk masuk ke dalam sel (otot, lemak, dan hati) agar dapat digunakan sebagai energi, sehingga mengurangi kadar glukosa yang beredar dalam darah.
Meningkatkan Penyerapan Glukosa: Pare diketahui dapat meningkatkan ambilan glukosa oleh sel-sel perifer tubuh dan dapat membantu dalam penyimpanan glikogen di hati dan otot.