POLA JABAR - Strategi utama yang paling sering digunakan oleh industri makanan untuk menyamarkan total kandungan gula dalam produk adalah dengan memecah gula menjadi berbagai komponen dan mencantumkannya dengan nama-nama samaran yang berbeda dalam daftar bahan.
Bagi konsumen yang teliti, membaca label nutrisi adalah keharusan, namun industri telah menemukan cara cerdik untuk membuat gula tampak kurang dominan. Daripada hanya mencantumkan "Gula" dalam jumlah besar di urutan pertama atau kedua (yang menandakan kandungan terbanyak), produsen menggunakan tiga hingga lima jenis pemanis berbeda. Contohnya, dalam satu produk bisa tercantum sirup jagung tinggi fruktosa (high-fructose corn syrup), diikuti oleh dekstrosa, kemudian madu, dan diakhiri dengan maltodekstrin.
Meskipun total jumlah dari semua pemanis ini mungkin menjadikan gula sebagai bahan paling dominan, karena dicantumkan dalam nama yang berbeda-beda, masing-masing bahan tersebut akan muncul di urutan yang lebih bawah dalam daftar, sehingga secara visual dan psikologis, konsumen tidak langsung mengasosiasikannya dengan produk yang "terlalu banyak gula."
Taktik penyebaran nama ini semakin diperkuat dengan penggunaan puluhan nama ilmiah dan teknis untuk gula yang berasal dari berbagai sumber. Sebagian besar konsumen familiar dengan sukrosa (gula meja), tetapi banyak yang mungkin tidak menyadari bahwa istilah seperti dextrose, fructose, maltose, laktosa, atau akhiran "-osa" lainnya merujuk pada bentuk gula dasar.
Lebih jauh lagi, industri menggunakan berbagai ekstrak pemanis lain yang terdengar "alami" atau "sehat" untuk menggantikan gula konvensional, seperti nektar agave, gula tebu evaporasi (evaporated cane juice), sirup beras merah (brown rice syrup), atau molase (molasses).
Semua bentuk pemanis ini, terlepas dari sumbernya, pada dasarnya tetaplah gula tambahan yang berkontribusi pada total kalori dan asupan gula harian. Seperti yang diungkap dalam laporan investigasi mendalam oleh New York Times Investigation, proliferasi nama-nama ini adalah strategi yang disengaja untuk mengaburkan jumlah gula sebenarnya yang ditambahkan ke makanan olahan.
Selain strategi nama samaran, produsen juga lihai memanfaatkan perbedaan persepsi konsumen terhadap jenis-jenis pemanis. Misalnya, mereka mungkin mengganti gula kristal (sukrosa) dengan sirup jagung tinggi fruktosa (HFCS). HFCS seringkali lebih murah dan, yang terpenting bagi produsen, secara teknis bukan gula meja, meskipun dampak metabolismenya mirip.
Strategi lainnya adalah dengan menggunakan pemanis berintensitas tinggi seperti konsentrat sari buah (fruit juice concentrate). Meskipun mungkin terdengar seperti komponen buah yang sehat, konsentrat ini adalah bentuk gula yang sangat pekat, di mana airnya telah dihilangkan.
Ketika konsumen melihat klaim produk "mengandung sari buah alami" atau "tanpa gula tambahan", mereka harus tetap waspada dan memeriksa label secara menyeluruh. Kandungan gula total (Total Sugars) yang tertera pada tabel nutrisi, dan khususnya kategori Gula Tambahan (Added Sugars), menjadi kunci vital untuk mengungkap total pemanis yang sebenarnya ditambahkan dalam produk tersebut.