POLA JABAR - Mie, dalam berbagai wujudnya mulai dari ramen di Jepang hingga ramyeon dan jajangmyeon di Korea telah melampaui statusnya sebagai sekadar makanan pokok, menjelma menjadi sebuah ikon budaya populer yang kuat dan mudah dikenali di Asia Timur. 

Kehadiran mie, khususnya mie instan, dalam kehidupan sehari-hari kedua negara ini mencerminkan sebuah narasi besar tentang modernisasi, kecepatan hidup, dan keterjangkauan. 

Di Korea, ramyeon (mie instan) tidak hanya menjadi makanan penyelamat di akhir bulan atau teman begadang saat belajar, tetapi juga sebuah jembatan yang menghubungkan generasi, sering muncul sebagai menu wajib saat berkemah atau saat pulang larut malam. 

Simbolisme ini tertanam kuat dalam drama Korea (K-Drama), dimana adegan menyantap ramyeon panas di malam hari, seringkali dengan wajah lelah namun penuh kehangatan, menjadi klise sinematik yang memicu rasa nostalgia dan kenyamanan yang mendalam bagi penonton global.

Di Jepang, ramen yang lebih sering merujuk pada hidangan mie kuah yang kompleks dan dibuat segar memegang posisi yang sama penting, namun dengan nuansa yang berbeda, seringkali dihubungkan dengan seni kuliner yang detail dan ritual sosial. 

Budaya ramen di Jepang adalah tentang dedikasi, di mana setiap mangkuk adalah sebuah karya master yang memakan waktu pembuatan kuah kaldu berjam-jam, hingga melahirkan sebuah pengalaman yang mendalam dan hampir spiritual. Kedai ramen kecil, yang dikenal sebagai yattai atau ramen-ya, bukan hanya tempat makan, melainkan laboratorium keahlian dan tempat peristirahatan yang cepat bagi pekerja keras. 

Fenomena ini tercermin dalam budaya populer mereka, seperti manga dan anime, dimana tokoh utamanya sering dikaitkan dengan kecintaan pada ramen atau bahkan berusaha menjadi ahli ramen, menunjukkan bahwa hidangan ini adalah simbol kerja keras, ketekunan, dan pencarian kesempurnaan.

Pengaruh mie sebagai ikon budaya populer semakin diperkuat melalui media global yang mendistribusikan citra tersebut ke seluruh dunia. Adegan menyantap mie di K-Drama atau adegan heroik setelah makan ramen di anime, secara tidak langsung mengajarkan dan memasarkan hidangan ini kepada audiens internasional. 

Sosis dan sup mie yang dinikmati bersama di Korea, atau hirupan kuah kaldu yang mendalam di Jepang, menjadi sebuah bahasa visual yang universal tentang kebersamaan, pemulihan, dan kebahagiaan sederhana.