POLA JABAR – Penyakit ain dalam Islam memiliki dasar yang jelas dalam hadis dan ajaran para ulama.

Rasulullah saw. menegaskan keberadaan ain melalui hadis:

"Ain itu nyata (Haq), kalau saja ada sesuatu yang mendahului takdir, niscaya ‘ain akan mendahuluinya" (HR. Muslim).

Menurut Syekh Ibnu Hajar al-‘Asqalany dalam Fath al-Bari, ain merupakan pandangan kagum atau takjub yang disertai rasa iri dan dengki dari orang yang bertabiat buruk, sehingga menimbulkan bahaya pada yang dipandangnya.

Ulama Al-Munawi dalam Faid al-Qadir menjelaskan:

"Ain adalah pandangan pada sesuatu dalam keadaan kagum atau takjub tanpa disertai zikir kepada Allah" (Al-Munawi, Faid al-Qadir, juz 15, h. 474).

Dari dua penjelasan tersebut, penyakit ain dapat muncul karena:

  1. Rasa iri dengki terhadap nikmat orang lain, sehingga berharap orang tersebut celaka.
  2. Kekaguman berlebihan, meski tanpa rasa dengki, tetapi tidak disertai zikir kepada Allah Swt.

Dalil Al-Qur’an juga menegaskan hal ini. Dalam QS. Al-Qalam: 51: