POLA JABAR - Bagi banyak orang, es krim adalah makanan penutup yang sulit ditolak. Namun, kandungan kalori, lemak, dan gula yang tinggi sering kali menimbulkan rasa bersalah setelah mengkonsumsinya. 

Sebagai solusi, industri pangan menghadirkan es krim rendah lemak (low-fat ice cream) yang menjanjikan kenikmatan serupa dengan risiko kesehatan yang lebih minim. Namun, muncul sebuah pertanyaan besar: apakah klaim "rendah lemak" ini benar-benar menjadikannya pilihan yang lebih sehat?

Secara teknis, es krim rendah lemak adalah produk yang mengandung lemak jauh lebih sedikit dibandingkan es krim standar. Jika es krim tradisional mengandalkan lemak susu untuk menciptakan tekstur yang lembut dan kaya rasa, varian rendah lemak menggunakan teknik pengolahan yang berbeda atau bahan pengganti. 

Namun, yang sering luput dari perhatian konsumen adalah apa yang ditambahkan oleh produsen untuk menutupi hilangnya lemak tersebut seperti dilansir dari healthline.

Lemak memberikan rasa kenyang dan tekstur yang memuaskan. Ketika lemak dihilangkan, es krim cenderung menjadi hambar dan berair. Untuk mengatasi hal ini, produsen seringkali menambahkan gula dalam jumlah yang lebih tinggi, sirup jagung fruktosa tinggi, atau pemanis buatan agar rasanya tetap lezat.

Selain itu, tekstur yang lembut pada es krim rendah lemak biasanya didapatkan dari penambahan bahan pengental dan pengemulsi seperti guar gum, carrageenan, atau pati modifikasi. Meskipun bahan-bahan ini umumnya dianggap aman, bagi sebagian orang, konsumsi bahan tambahan secara berlebihan dapat memicu gangguan pencernaan atau kembung.

Banyak konsumen berasumsi bahwa rendah lemak berarti rendah kalori. Padahal, karena kandungan gula yang tinggi, perbedaan kalori antara es krim biasa dan es krim rendah lemak sering kali tidak signifikan. Masalah psikologis juga berperan di sini; label "sehat" atau "diet" sering kali membuat seseorang merasa sah-sah saja mengonsumsi porsi yang lebih besar, yang pada akhirnya justru menyebabkan asupan kalori total yang lebih tinggi daripada mengonsumsi satu porsi kecil es krim reguler.

Berdasarkan tinjauan nutrisi, es krim rendah lemak cenderung memiliki indeks glikemik yang lebih tinggi. Tanpa adanya lemak yang memperlambat penyerapan gula, kadar glukosa dalam darah dapat meningkat dengan cepat. 

Hal ini perlu diwaspadai, terutama bagi penderita diabetes atau mereka yang sedang mencoba mengelola resistensi insulin. Sebaliknya, lemak dalam es krim standar sebenarnya membantu menstabilkan lonjakan gula darah setelah makan.