POLA JABAR - Hubungan antara konsumsi gula dan perasaan senang adalah salah satu mekanisme neurokimia paling mendasar yang mempengaruhi perilaku makan manusia. Rasa manis secara evolusioner telah diidentifikasi oleh otak sebagai sinyal untuk makanan yang kaya kalori dan aman dikonsumsi, sebuah reward (hadiah) yang penting untuk kelangsungan hidup. 

Ketika kita mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula baik itu glukosa, fruktosa, atau sukrosa aktivitas di otak segera melonjak, khususnya di sebuah sirkuit yang dikenal sebagai sistem penghargaan (reward system). Inti dari aktivasi ini adalah pelepasan masif neurotransmiter yang paling sering dikaitkan dengan kenikmatan, motivasi, dan reinforcement (penguatan perilaku): yaitu dopamin. 

Pelepasan dopamin ini menciptakan sensasi kesenangan dan euforia yang instan, yang pada gilirannya mendorong kita untuk mengulangi tindakan yang memicu pelepasan tersebut dalam hal ini, makan makanan manis.

Proses neurokimia yang terjadi sangatlah cepat dan efisien. Begitu gula mencapai lidah, reseptor rasa manis mengirimkan sinyal langsung ke batang otak, yang kemudian memicu pelepasan dopamin di area otak, terutama di Nukleus Akumbens (Nucleus Accumbens). Area ini sering disebut sebagai 'pusat kesenangan' otak. Peningkatan mendadak kadar dopamin ini menghasilkan perasaan "bahagia" atau "puas" yang sangat kuat, sebuah sugar high yang menyenangkan yang berfungsi sebagai penguat positif. 

Karena dopamin berperan penting dalam pembelajaran, otak kita segera mencatat bahwa konsumsi gula menghasilkan sensasi yang sangat menyenangkan ini. Catatan ini kemudian menjadi dasar bagi dorongan dan keinginan (craving) untuk mengonsumsi lebih banyak makanan manis di masa depan, menciptakan lingkaran perilaku yang sulit diputus. 

Efek mendalam gula terhadap kimiawi otak dan kecenderungan adiktifnya telah diuraikan secara ekstensif, termasuk dalam analisis mendalam yang diterbitkan oleh Psychology Today, yang menekankan bagaimana gula secara harfiah "membajak" jalur reward alami otak.

Namun, seperti yang diindikasikan, kebahagiaan yang ditimbulkan oleh gula ini cenderung bersifat sementara. Hal ini disebabkan oleh sifat fluktuatif dari respons dopamin yang dipicu oleh gula. Setelah kadar gula darah melonjak tinggi, tubuh akan merespons dengan pelepasan hormon insulin untuk memproses gula tersebut. Respons metabolik yang cepat ini menyebabkan kadar gula darah anjlok, sebuah kondisi yang sering dikenal sebagai sugar crash

Secara neurokimia, kadar dopamin yang melonjak tajam saat konsumsi juga akan turun kembali dengan cepat, bahkan terkadang di bawah tingkat dasar sebelum konsumsi. 

Penurunan dopamin dan gula darah secara simultan ini meninggalkan perasaan lemas, lesu, iritasi, dan bahkan sedikit sedih atau gelisah, yang sangat kontras dengan euforia awal.