Opini ditulis oleh Dr. Mohamad Rudiana S.Sn., M.Sn, Dosen Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia Bandung

POLA JABAR - Upacara Hajat Lembur merupakan salah satu tradisi budaya yang paling kuat melekat dalam kehidupan masyarakat Desa Sukatani, Kecamatan Tanjungmedar, Kabupaten Sumedang. Upacara adat ini digelar sebagai bentuk rasa syukur atas segala berkah yang diterima masyarakat selama satu tahun, sekaligus sebagai doa bersama untuk keselamatan kampung, kemakmuran pertanian, serta keharmonisan sosial. Tahun ini, Hajat Lembur yang dilaksanakan pada 15 November 2025 terasa semakin semarak karena bertepatan dengan Milangkala Desa Sukatani yang ke-140  dengan tema “Ngurus Lembur Ngamumule Budaya Sunda” sehingga rangkaian acaranya lebih meriah dan kaya akan pagelaran seni khas Sumedang khususnya yang ada di Desa Sukatani.

Sejak pagi hari, warga dari berbagai dusun mulai berdatangan ke pusat kegiatan dengan mengenakan pakaian terbaiknya. Beberapa membawa hasil bumi untuk seserahan, sebagian lainnya datang untuk ikut serta dalam pengajian, doa hajat, dan kirab budaya. Bagi masyarakat Sukatani, Hajat Lembur bukan sekadar acara seremonial, tetapi momentum untuk menegaskan kembali jati diri kolektif mereka sebagai masyarakat agraris Sunda yang menjunjung tinggi kebersamaan, gotong-royong, dan kelestarian budaya lokal.
Salah satu hal yang selalu dinantikan dalam Hajat Lembur adalah pentas seni tradisional yang digelar oleh masyarakat.

Tahun ini, beragam kesenian ditampilkan, mulai dari Pencak Silat, Tari Tradisional, Rampak Bedug, Tutunggulan, Kuda Renggong hingga kesenian khas Sukatani yang telah turun-temurun dijaga, yaitu Seni Bangreng. Kesenian - kesenian ini bukan hanya pelengkap acara, tetapi menjadi unsur penting yang membangun suasana sakral sekaligus meriah pada Hajat Lembur. Walaupun banyak jenis kesenian  yang ditampilkan, puncak acara dan yang paling ditunggu-tunggu masyarakat tetaplah Seni Bangreng, sebuah pertunjukan yang mampu menghipnotis penonton melalui waditra yang dimainkan para Wiyaganya.

Bangreng  Identitas  Desa Sukatani

Seni Bangreng memiliki akar sejarah yang cukup panjang. Kesenian ini  merupakan bentuk perkembangan dari Seni Terebang, yang dalam beberapa daerah juga dikenal sebagai Gembyung. Salah seorang tokoh Seni Terbang atau Gembyung di Kabupaten Sumedang adalah Aki Adis dari Sudimampir tetangga Desa Sukatani. Terebang pada masa awal banyak digunakan untuk mengiringi syiar Islam, khususnya melalui lantunan shalawat dan dzikir. Dalam perkembangannya, kesenian Terebang mengalami akulturasi dengan budaya lokal, ritme musiknya menjadi lebih dinamis, lagu – lagu yang dibawakannya makin berkembang dan unsur tarinya semakin kuat sehingga melahirkan kesenian baru yang lebih atraktif, yaitu Seni Bangreng.

Di Desa Sukatani, Bangreng bukan sekadar seni pertunjukan, ia adalah kesenian hidup yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Hampir setiap hajatan, baik itu sunatan, pernikahan, syukuran, hingga acara adat seperti Hajat Lembur, selalu menghadirkan Bangreng sebagai  hiburan. Salah satu grup Bangreng  yang pernah berkembang dan menjadi kebanggaan masyarakat adalah Bangreng Pusaka Medal Rahayu dari Kampung Sukaasih  bentukan Alm Bapak Adang Supriatna yang  dikembangkan oleh seorang seniman lokal bernama Mang Toto. Tercatat beberapa tokoh Seni Bangreng dari Desa Sukatani seperti: Mang Awo, Aki Sukria, Pa Adang, Mang Wahri, Mang Amar, mereka adalah seniman – seniman yang berjasa menyebarkan Bangreng di Kecamatan Tanjungmedar dan sekitarnya.
 
Bangreng dalam Puncak Acara Hajat Lembur

Pada Hajat Lembur 15 November kemarin, pertunjukan Bangreng menjadi puncak acara yang ditunggu-tunggu. Menjelang sore, arena  atau Balandongan pertunjukan mulai dipadati masyarakat. Anak-anak duduk di bagian depan panggung, sementara orang dewasa berdesakan di belakang. Ketika pukul 20.00, waditra  mulai terdengar, mengalun dengan ritme cepat namun teratur dimainkan oleh Lingkung Seni Dangiang Sukatani.
Penari-penari Bangreng memasuki lapangan dengan gerakan khas yang energik namun tetap berakar pada tradisi. Setiap hentakan kaki, goyangan bahu, dan ayunan tangan tampak menyatu dengan irama musik. Tidak jarang, penonton ikut hanyut dan terlibat spontan menggerakkan badan mengikuti irama tabuhan.

Keindahan Bangreng tidak hanya terletak pada aspek musikal dan tariannya, tetapi juga pada eksotisme yang muncul dari perpaduan elemen-elemen spiritual, estetika tradisional, dan keceriaan masyarakat. Kesenian ini menyajikan sebuah pengalaman budaya yang mempersatukan warga, baik tua maupun muda,berkumpul dalam satu ruang kebersamaan yang hangat dan meriah.