POLA JABAR - Siapa yang bisa menolak godaan semangkuk es krim dingin di tengah hari yang terik? Kelembutan tekstur, sensasi dingin yang menyegarkan, dan ledakan rasa manis membuat hidangan penutup ini menjadi favorit lintas generasi. 

Namun, di balik kenikmatannya, tersimpan sebuah fakta penting yang sering luput dari perhatian yakni kandungan gula yang signifikan. Dalam konteks peningkatan kesadaran akan kesehatan global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara konsisten menyerukan perhatian terhadap asupan gula, dan es krim tentu tak luput dari sorotan ini, Mari kita bahas.

Pesona Es Krim: Lebih dari Sekadar Manis

Es krim, dalam bentuk dasarnya, adalah produk olahan susu yang dibekukan, biasanya diperkaya dengan gula, perasa, dan penstabil. Variasi rasanya tak terbatas, mulai dari vanila klasik, cokelat pekat, hingga kreasi buah-buahan eksotis dan campuran gourmet

Teksturnya yang lembut dan creamy didapat dari proses pengadukan yang cermat, mengintegrasikan udara ke dalam campuran, sementara kandungan lemak susu berkontribusi pada sensasi mouthfeel yang kaya. 

Proses pendinginan yang cepat membantu mencegah pembentukan kristal es yang besar, menjaga kehalusan yang disukai banyak orang.

Gula dalam Es Krim: Pemanis Rasa dan Sumber Energi

Gula memainkan peran krusial dalam formula es krim, bukan hanya sebagai pemberi rasa manis. Ia juga berfungsi sebagai penurun titik beku, yang memungkinkan es krim memiliki tekstur lembut dan tidak sekeras es batu pada suhu yang sama. Selain itu, gula berkontribusi pada volume dan kepadatan produk.

Namun, disinilah letak poin penting yang digaris bawahi oleh WHO. Mayoritas jenis es krim komersial mengandung kadar gula tambahan yang tinggi.