POLA JABAR - Bagi masyarakat Inggris, teh bukan sekadar penghilang dahaga. Ia adalah denyut nadi kehidupan sosial, sebuah simbol keramahan, dan ritual yang menembus batas kelas. Namun, jika kita menengok ke belakang, hubungan cinta antara Inggris dan daun teh ternyata berawal dari sebuah barang mewah yang penuh dengan gengsi dan sejarah yang kompleks.

Berdasarkan catatan dari English Heritage, teh tidak langsung menjadi minuman rakyat jelata. Perjalanannya melibatkan pengaruh kerajaan, kebijakan pajak, hingga pergeseran gaya hidup masyarakat yang bertahan hingga berabad-abad.

Kedatangan Sang Primadona: Hadiah dari Kerajaan

Teh pertama kali diperkenalkan di Inggris pada pertengahan abad ke-17. Salah satu momen krusial dalam sejarah ini adalah pernikahan Raja Charles II dengan Catherine dari Braganza, seorang putri dari Portugal, pada tahun 1662. Catherine membawa kebiasaan minum teh dari tanah airnya ke istana Inggris.

Sebagai seorang trendsetter di zamannya, kebiasaan Catherine segera ditiru oleh kaum aristokrat. Pada masa itu, teh adalah komoditas yang sangat mahal karena didatangkan jauh dari Tiongkok. Karena harganya yang selangit, teh disimpan dalam kotak kayu terkunci yang disebut tea caddy, dan hanya sang nyonya rumah yang memegang kuncinya sebagai simbol status sosial yang tinggi.

Perang Pajak dan Maraknya Penyelundupan

Kepopuleran teh yang meningkat memicu pemerintah Inggris untuk mengenakan pajak yang sangat tinggi. Hal ini sempat menghambat konsumsi legal, namun justru melahirkan pasar gelap yang masif. Penyelundupan teh menjadi pemandangan umum di pesisir Inggris pada abad ke-18.

Baru pada tahun 1784, melalui Commutation Act, pemerintah memangkas pajak teh secara drastis dari 119 persen menjadi hanya 12,5 persen. Kebijakan ini mengubah segalanya. Teh yang tadinya hanya bisa dinikmati oleh orang kaya, tiba-tiba menjadi terjangkau bagi kelas pekerja dan segera menggantikan bir sebagai minuman favorit sehari-hari.

Lahirnya Tradisi Afternoon Tea