POLA JABAR – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Kota Bandung yang semula berjalan kondusif harus berakhir dengan ketegangan pada Jumat malam, 1 Mei 2026.

Meski aksi massa sejak pagi hingga sore hari terpantau aman, situasi berubah drastis setelah munculnya aksi anarkis yang diduga melibatkan kelompok Anarko di kawasan Dago Cikapayang.

Kepala Satpol PP Kota Bandung, Bambang Sukardi, memaparkan bahwa pengamanan ketat sebenarnya telah disiapkan melalui sinergi antara TNI, Polri, dan berbagai instansi terkait sejak apel gabungan dimulai.

Awalnya, penjagaan difokuskan pada titik vital seperti Gedung Sate dan kantor DPRD Provinsi Jawa Barat. Hingga sore hari, belum terlihat adanya pergerakan massa yang mencurigakan.

“Sejak pukul 09.00 hingga 16.00 WIB personel gabungan melakukan pengamanan dan siaga di sekitar Gedung Sate dan DPRD Provinsi Jawa Barat. Situasi terpantau aman dan kondusif, belum ada pergerakan massa,” jelas Bambang, Sabtu 2 Mei 2026.

Namun, memasuki pukul 18.00 WIB, suasana di Dago Cikapayang mulai memanas. Kelompok massa dengan ciri khas pakaian hitam-hitam mulai melakukan tindakan destruktif, termasuk membakar ban dan pembatas jalan (water barrier). Situasi semakin sulit dikendalikan saat massa dari arah Jalan Tamansari ikut bergabung dan diduga membawa bom molotov. Pasukan Brimob akhirnya dikerahkan untuk membubarkan massa pada pukul 19.00 WIB.

Dampak dari aksi perusakan tersebut sangat dirasakan oleh pengguna jalan. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung, Rasdian Setiadi, melaporkan adanya kerusakan fatal pada fasilitas lalu lintas di simpang Balubur Tamansari, termasuk sistem pengontrol lampu APILL yang hancur.

“Kerusakan meliputi lampu APILL serta box fiber optic node termination dan controller dengan estimasi kerusakan mencapai 75 persen atau sekitar Rp400 juta,” jelasnya.

Meski mengalami kerusakan berat, pihak Dishub tetap berusaha memastikan arus kendaraan tidak lumpuh total dengan melakukan perbaikan darurat.