POLA JABAR – Jika kita perhatikan di sekeliling saat momen Idulfitri, mulai dari dekorasi masjid, bungkus ketupat, hingga busana muslim yang dikenakan warga, warna hijau dan putih seolah menjadi palet wajib yang mendominasi. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa kedua warna ini begitu lekat dengan identitas Hari Raya?

Ternyata, pemilihan warna hijau dan putih bukan sekadar masalah estetika atau tren mode semata, melainkan memiliki akar sejarah dan filosofi yang sangat mendalam dalam tradisi Islam.

Warna Kesukaan Rasulullah SAW

Secara historis, warna hijau memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam. Banyak riwayat menyebutkan bahwa hijau adalah warna favorit Nabi Muhammad SAW. Beliau sering kali mengenakan jubah atau sorban berwarna hijau dalam berbagai kesempatan penting. Hal inilah yang kemudian membuat umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Jawa Barat, merasa memiliki kedekatan emosional dan spiritual dengan warna tersebut.

Representasi Surga dan Kedamaian

Dalam Al-Qur'an, warna hijau sering kali digunakan untuk menggambarkan keindahan surga. Ayat-ayat suci menyebutkan bahwa penduduk surga akan mengenakan pakaian dari sutra halus yang berwarna hijau (sundus) serta beristirahat di atas bantal-bantal hijau yang indah.

Oleh karena itu, penggunaan warna hijau saat Idulfitri disimbolkan sebagai bentuk harapan akan kedamaian, kesuburan, dan kehidupan baru yang penuh berkah setelah sebulan penuh menjalani proses penyucian diri di bulan Ramadhan.

Putih Sebagai Simbol Fitrah (Kesucian)

Sementara itu, warna putih yang selalu mendampingi nuansa hijau melambangkan aspek "Fitrah". Idulfitri secara harfiah berarti kembali ke kesucian atau kembali makan pagi. Warna putih dianggap sebagai representasi yang paling akurat untuk menggambarkan kondisi hati yang telah bersih dari noda dosa setelah berpuasa.