POLA JABAR - Keju Gouda bukan sekadar produk susu; ia adalah cerminan sejarah, budaya, dan tradisi Belanda yang telah diwariskan selama berabad-abad. Berasal dari kota Gouda di Holland Selatan, keju berbentuk roda ini telah menjadi salah satu keju paling terkenal dan banyak dikonsumsi di seluruh dunia, mencuri perhatian dengan teksturnya yang padat, creamy, dan rasanya yang khas, mulai dari ringan saat muda hingga kaya rasa kacang dan karamel saat sudah tua. 

Sejarah Gouda dapat ditelusuri kembali setidaknya hingga abad ke-12, menjadikannya salah satu keju tertua yang masih diproduksi hingga hari ini. Keberhasilan keju ini tidak terlepas dari geografis Belanda yang datar dan lembab, sangat ideal untuk beternak sapi perah yang menghasilkan susu berkualitas tinggi. 

Tradisi pembuatan keju ini dijaga ketat, di mana susu dihangatkan, dicampur dengan rennet, dan dicetak menjadi roda besar yang kemudian direndam dalam air garam (brine) untuk memberikan rasa dan membantu pembentukan kulit luar. Proses inilah yang membuat Gouda memiliki identitas rasa dan tekstur yang unik.

Inti dari tradisi Gouda di Belanda terletak pada Pasar Keju Gouda yang ikonik. Pasar ini bukan sekadar tempat transaksi, melainkan sebuah pertunjukan budaya yang telah berlangsung sejak tahun 1395. Di pasar ini, keju-keju Gouda dibawa dan ditumpuk tinggi, dan proses jual beli dilakukan dengan cara yang sangat tradisional: dengan tepukan tangan. 

Petani dan pedagang, mengenakan pakaian tradisional, melakukan tawar-menawar dengan gestur tangan yang khas (handjeklap), sebuah ritual yang menarik perhatian wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Ritual handjeklap ini menegaskan harga dan kesepakatan secara lisan, menggarisbawahi pentingnya kejujuran dan kepercayaan dalam perdagangan keju kuno ini. Meskipun saat ini sebagian besar transaksi keju dilakukan di pabrik atau fasilitas modern, pasar ini tetap dihidupkan kembali selama musim panas sebagai demonstrasi hidup dari warisan perdagangan keju Belanda, menunjukkan bagaimana produk pertanian dapat menjadi magnet budaya dan sejarah yang kuat.

Perbedaan usia Gouda juga menjadi elemen penting dalam tradisi kuliner Belanda. Gouda diklasifikasikan berdasarkan waktu pematangannya, dan setiap tingkat usia menawarkan pengalaman rasa yang berbeda secara drastis. Gouda muda (Jonge Gouda) yang hanya matang selama empat minggu sangat lembut, memiliki rasa susu yang manis dan sedikit asin, cocok untuk dimakan langsung atau dijadikan camilan. 

Sementara itu, Gouda tua (Oude Gouda) yang matang selama minimal 12 bulan hingga beberapa tahun, jauh lebih keras, memiliki kristal tirosin yang renyah (tanda pematangan sempurna), dan meledak dengan rasa karamel, butterscotch, dan nutty yang mendalam. 

Para penikmat keju di Belanda sangat menghargai variasi rasa ini, sering kali menyajikan Gouda tua bersama minuman beralkohol seperti port atau beer sebagai hidangan penutup yang kaya. Tradisi ini menunjukkan penghargaan tinggi masyarakat Belanda terhadap proses penuaan keju yang sabar dan menghasilkan produk premium yang disukai global.

Dari pasar yang ramai dengan tepukan tangan hingga rak penyimpanan yang gelap tempat keju dimatangkan perlahan, Gouda adalah kisah tentang dedikasi, kualitas, dan tradisi yang tak lekang oleh waktu. Keju ini bukan hanya makanan pokok, melainkan duta budaya Belanda yang membawa cita rasa sejarah ke meja makan di seluruh dunia.