POLA JABAR - Hubungan antara konsumsi gula yang berlebihan dan penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh telah menjadi fokus penelitian penting dalam ilmu kesehatan modern. 

Anggapan bahwa mengkonsumsi makanan manis dapat memberikan energi instan untuk melawan penyakit seringkali menyesatkan; faktanya, asupan gula tambahan yang tinggi secara konsisten terbukti memiliki efek menekan pada garis pertahanan pertama tubuh. 

Gula, khususnya glukosa dan fruktosa yang terkandung dalam minuman manis dan makanan olahan, dapat mengganggu kemampuan sel darah putih terutama fagosit yang merupakan tentara utama dalam sistem imun untuk melawan dan "memakan" bakteri, virus, dan patogen asing lainnya. 

Gangguan ini menciptakan periode kerentanan yang dikenal sebagai sugar lethargy atau "kelesuan gula," di mana efektivitas sistem kekebalan menurun secara signifikan dalam beberapa jam setelah konsumsi gula tinggi.

Efek negatif gula terhadap sistem imun ini tidak hanya bersifat sementara, namun juga melibatkan respons peradangan kronis dalam jangka panjang. Ketika gula dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, tubuh dipaksa untuk memproses kadar glukosa yang tinggi, yang dapat memicu pelepasan cytokine pro-inflamasi dan meningkatkan stres oksidatif. 

Peradangan tingkat rendah yang terjadi secara terus-menerus ini, meski tidak terasa seperti sakit akut, dapat membebani sistem kekebalan tubuh, mengalihkannya dari tugas penting melawan infeksi ke upaya meredakan peradangan internal yang disebabkan oleh pola makan yang buruk. 

Dokter dan peneliti di Harvard Medical School telah berulang kali menyoroti bahwa peradangan kronis adalah akar dari banyak penyakit serius, termasuk penyakit jantung dan diabetes tipe 2, dan peradangan yang dipicu gula ini secara inheren melemahkan respon imun ketika tubuh benar-benar membutuhkan perlindungan penuh.

Selain mempengaruhi sel darah putih dan memicu peradangan, konsumsi gula berlebihan juga memiliki dampak destruktif pada mikrobioma usus, yang merupakan bagian integral dari sistem kekebalan. Usus yang sehat dengan keseimbangan bakteri baik adalah kunci untuk imunitas yang kuat. 

Ketika terlalu banyak gula masuk, ia menjadi makanan bagi bakteri jahat, menyebabkan disbiosis atau ketidakseimbangan flora usus. Gangguan keseimbangan ini dapat merusak lapisan pelindung usus, yang dikenal sebagai gut barrier, memungkinkan zat-zat yang tidak diinginkan masuk ke aliran darah dan memicu respons autoimun atau alergi yang tidak perlu.