POLA JABAR - Hubungan antara gula dan otak manusia jauh melampaui sekadar sumber energi; ini adalah hubungan neurobiologis yang kompleks yang secara langsung mempengaruhi pusat kesenangan dan hadiah (reward center) di otak kita, sebuah mekanisme yang secara tidak langsung mendorong perilaku konsumsi berlebihan atau bahkan bisa disebut ketergantungan. 

Ketika kita mengkonsumsi makanan manis, gula yang masuk ke aliran darah dengan cepat memberikan sinyal ke otak. Sinyal ini mengarah langsung pada pelepasan neurotransmiter penting yang disebut dopamin di area yang dikenal sebagai nucleus accumbens, yaitu pusat hadiah otak. 

Dopamin adalah zat kimia yang bertanggung jawab atas perasaan senang dan kepuasan, sehingga otak secara otomatis mencatat dan mengingat pengalaman ini sebagai sesuatu yang ingin diulangi. Reaksi kimia ini, yang memberikan ‘high’ singkat dan intens, pada dasarnya adalah sistem reward yang kuat yang mendorong kita untuk mencari sensasi manis lagi dan lagi, mirip dengan cara kerja zat adiktif lainnya, sehingga menciptakan siklus konsumsi yang sulit diputuskan.

Mekanisme dopamin ini menjelaskan mengapa gula tidak hanya memuaskan rasa lapar tetapi juga mempengaruhi suasana hati dan perilaku kita. Paparan gula yang kronis dan berlebihan pada akhirnya dapat menyebabkan desensitisasi pada pusat hadiah otak. Menurut penelitian dan ulasan mendalam yang dikutip oleh para ahli di Harvard Medical School, konsumsi gula yang berulang-ulang menyebabkan otak beradaptasi dengan tingkat dopamin yang tinggi.

Akibatnya, otak membutuhkan jumlah gula yang semakin besar dari waktu ke waktu untuk mencapai tingkat kepuasan yang sama, sebuah fenomena yang sangat mirip dengan toleransi dalam konteks kecanduan. Adaptasi ini menjadi pendorong utama di balik perilaku konsumsi berlebihan yang sulit dikendalikan. 

Ketika seseorang mencoba mengurangi asupan gula, otak yang sudah terbiasa dengan lonjakan dopamin akan merespons dengan gejala putus zat (withdrawal symptoms) seperti mudah marah (irritability), kelelahan, dan keinginan yang kuat (craving) terhadap makanan manis, yang memperkuat siklus ketergantungan ini.

Selain efek pada sistem hadiah, fluktuasi cepat kadar gula darah setelah konsumsi manis juga mempengaruhi fungsi kognitif dan suasana hati. Lonjakan energi yang cepat setelah mengkonsumsi gula akan segera diikuti oleh penurunan tajam (sugar crash). 

Penurunan drastis ini sering kali membuat seseorang merasa lesu, sulit berkonsentrasi, dan mengalami perubahan suasana hati yang cepat, terkadang memicu rasa cemas atau kesedihan. Lebih lanjut, konsumsi gula berlebihan telah dikaitkan dengan peningkatan peradangan sistemik, termasuk peradangan di otak. Peradangan kronis di otak (neuroinflammation) ini berpotensi merusak sel-sel saraf dan telah dihipotesiskan berperan dalam perkembangan gangguan mood seperti depresi. 

Oleh karena itu, mengurangi asupan gula tidak hanya penting untuk kesehatan fisik, tetapi juga merupakan langkah krusial untuk menjaga stabilitas emosional, meningkatkan fokus kognitif, dan memutus siklus ketagihan yang didorong oleh respons dopamin yang terlalu aktif.***