POLA JABAR – Kenaikan harga gas elpiji nonsubsidi yang mulai berlaku sejak 18 April 2026 menjadi tantangan baru bagi masyarakat Jawa Barat.
Menanggapi fenomena ekonomi ini, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menekankan pentingnya kembali ke kearifan lokal dan mempercepat diversifikasi energi sebagai langkah antisipatif.
Menurut pria yang akrab disapa KDM ini, sumber energi alternatif sebenarnya tersedia di sekitar lingkungan masyarakat, mulai dari pengolahan limbah ternak hingga pemanfaatan teknologi listrik.
Salah satu solusi konkret yang ditawarkan Gubernur adalah pengembangan biogas. Langkah ini sudah mulai diimplementasikan oleh para peternak di wilayah Kabupaten Bandung Barat yang sukses mengubah limbah kotoran sapi menjadi bahan bakar memasak yang efektif dan ekonomis.
KDM menilai potensi limbah, baik dari hewan maupun sampah organik, sangat besar untuk dikonversi menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi kebutuhan rumah tangga maupun skala lebih luas.
“Bisa mengelola kotoran sapi berubah jadi energi gas, bisa, sampah, bisa, listrik bisa,” ujar KDM, sapaan akrab Dedi Mulyadi, Senin (20/4/2026).
Selain biogas, Gubernur memberikan saran alternatif yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah masing-masing. Bagi warga yang tinggal di daerah pedesaan atau perkampungan, penggunaan kayu bakar bisa menjadi pilihan tradisional yang efisien.
Sementara itu, bagi masyarakat yang tinggal di kawasan urban atau perkotaan, peralihan ke kompor listrik dianggap sebagai langkah yang lebih modern dan praktis.
Baginya, kunci utama dalam menghadapi dinamika harga energi adalah kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dan memilih sumber daya yang paling sesuai dengan kantong masing-masing.