POLA JABAR – Peringatan Hari Autisme Internasional tahun 2026 menjadi titik balik bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung dalam mempertegas visi inklusivitas kota. Momen ini dimanfaatkan untuk memperkuat dukungan terhadap individu dalam spektrum autisme agar mendapatkan hak yang setara dalam kehidupan bermasyarakat.

Hal tersebut ditegaskan oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, saat menghadiri konferensi pers Tiento Run 2026 di D’Botanica, Kamis, 2 April 2026.

Dalam sambutannya, Farhan menyoroti pentingnya memperluas sosialisasi serta mengedukasi masyarakat guna meningkatkan kesadaran kolektif mengenai autisme. Beliau mencatat adanya perubahan besar dalam cara pandang publik dibandingkan tiga dekade silam.

Jika pada tahun 1990-an autisme hanya dianggap sebagai gangguan perkembangan pada anak-anak, kini tantangannya telah bergeser. Individu dengan spektrum autisme telah tumbuh menjadi dewasa dan memerlukan dukungan sistemik agar bisa berfungsi secara sosial.

“Isunya sekarang bukan hanya terapi dan pendidikan tetapi bagaimana individu autistik bisa mandiri dan diterima secara terbuka oleh masyarakat,” kata Farhan.

Wali Kota menekankan bahwa keramahan terhadap penyandang disabilitas, khususnya autisme, tidak boleh berhenti pada tataran teori atau jargon semata. Inklusivitas harus menyentuh ranah praktis di tengah masyarakat.

Pemkot Bandung berkomitmen untuk terus membuka akses seluas mungkin bagi warga dalam spektrum autisme agar mereka dapat berpartisipasi aktif dan berkembang tanpa hambatan.

Langkah strategis yang disiapkan Pemkot Bandung meliputi: