POLA JABAR - Siapa yang bisa menolak aroma menggoda dari sate yang sedang dibakar di atas arang? Di Indonesia, sate bukan sekadar makanan, melainkan tradisi kuliner yang digemari lintas generasi.

Namun, di balik kelezatannya, ada kekhawatiran kesehatan yang sering menghantui: risiko zat karsinogen atau pemicu kanker yang muncul akibat proses pembakaran.

Berdasarkan data dari National Cancer Institute, proses memasak daging dengan suhu tinggi, terutama di atas api terbuka, dapat memicu terbentuknya senyawa berbahaya bernama Heterocyclic Amines (HCA) dan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH). 

Kabar baiknya, Anda tidak perlu berhenti makan sate sama sekali. Ada beberapa langkah cerdas untuk meminimalisir risiko tersebut.

1. Pentingnya Proses Marinasi 

Tahukah Anda bahwa merendam daging dalam bumbu atau marinasi bukan hanya soal rasa? Penelitian menunjukkan bahwa merendam daging selama minimal 30 menit dalam bumbu yang mengandung asam (seperti jeruk nipis atau cuka) dan rempah kaya antioksidan (seperti kunyit, bawang putih, dan rosemary) dapat mengurangi pembentukan HCA hingga lebih dari 90 persen. Rempah-rempah ini bertindak sebagai perisai pelindung yang menghalangi reaksi kimia berbahaya selama proses pembakaran.

2. Gunakan Teknik "Pre-Cook" 

Salah satu pemicu utama terbentuknya zat karsinogen adalah durasi kontak daging yang terlalu lama dengan api panas. Untuk mengatasinya, Anda bisa mengukus atau merebus daging sate setengah matang terlebih dahulu sebelum ditusuk dan dibakar. 

Dengan cara ini, waktu pembakaran di atas arang menjadi jauh lebih singkat hanya perlu untuk mendapatkan aroma smoky dan warna kecokelatan yang cantik tanpa membiarkan zat berbahaya menumpuk.