POLA JABAR - Aroma lemak yang terbakar di atas arang panas memang sulit ditolak. Di Indonesia, sate bukan sekadar makanan; ia adalah tradisi kuliner yang bisa ditemui di setiap sudut jalan. Namun, dibalik kelezatan bumbu kacang dan daging yang juicy, ada pertanyaan kesehatan yang sering menghantui: apakah aman jika kita mengkonsumsi sate secara rutin setiap hari?

Merujuk pada ulasan dari Harvard Health Publishing, mengonsumsi daging yang dimasak dengan suhu sangat tinggi, seperti dibakar atau dipanggang langsung di atas api, memerlukan perhatian khusus.

Poin utama yang sering disoroti oleh para peneliti di Harvard adalah pembentukan senyawa kimia bernama Heterocyclic Amines (HCAs) dan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs). Senyawa ini muncul ketika otot daging bertemu dengan panas yang ekstrem.

HCAs terbentuk saat asam amino dan gula dalam daging bereaksi pada suhu tinggi, sementara PAHs terbentuk saat lemak daging menetes ke arang, menciptakan asap yang kemudian menempel pada permukaan sate. Dalam berbagai studi laboratorium, kedua senyawa ini diketahui bersifat mutagenik, yang berarti dapat menyebabkan perubahan pada DNA yang berpotensi meningkatkan risiko kanker.

Selain masalah proses pembakaran, jenis daging yang digunakan juga menjadi catatan penting. Sate kambing atau sate sapi yang kaya akan lemak jenuh, jika dikonsumsi rutin, dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat). Harvard menekankan bahwa konsumsi daging merah olahan secara berlebihan memiliki kaitan erat dengan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2.

Bolehkah Dimakan Rutin? Jawaban singkatnya: sebaiknya tidak. Meski sate adalah sumber protein yang baik, frekuensi konsumsinya harus dibatasi. Namun, bukan berarti Anda harus berhenti total. Ada beberapa cara cerdas untuk meminimalisir risiko kesehatan saat menyantap sate favorit Anda:

Merendam daging dalam bumbu (seperti kunyit, bawang putih, atau air jeruk nipis) sebelum dibakar terbukti secara ilmiah dapat mengurangi pembentukan senyawa HCAs hingga 90 persen.

Jangan ragu untuk memotong dan membuang bagian daging yang gosong atau menghitam, karena di situlah konsentrasi senyawa berbahaya paling tinggi berada.

Pilih Daging Tanpa Lemak: Gunakan bagian dada ayam atau daging sapi tanpa lemak untuk mengurangi tetesan lemak yang memicu munculnya asap PAHs.