POLAJABAR.COM - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) telah mengumumkan penyesuaian signifikan terhadap jadwal Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SMA/SMK/MA dan sederajat tahun 2026. Perubahan ini mencakup reformasi struktural dalam pelaksanaan ujian, bukan hanya sekadar pergeseran tanggal.
Salah satu penyesuaian krusial adalah dimajukannya periode pendaftaran peserta TKA tahun 2026. Sebelumnya, pendaftaran dijadwalkan dimulai pada 18 Agustus 2026, namun kini mengalami percepatan jadwal yang substansial.
Berdasarkan jadwal terbaru yang dikeluarkan oleh BKPDM Kemendikdasmen, masa pendaftaran resmi akan dibuka lebih awal, yakni terhitung mulai tanggal 27 Juli hingga 27 September 2026. Penetapan rentang waktu pendaftaran selama kurang lebih dua bulan ini diharapkan memberikan keuntungan waktu bagi para calon peserta.
Pemberian waktu pendaftaran yang lebih panjang ini dimaksudkan agar calon peserta dapat mempertimbangkan secara matang pilihan mata pelajaran yang akan mereka ikuti. Hal ini sejalan dengan rencana studi lanjutan maupun proyeksi karier yang ingin mereka tempuh pasca kelulusan sekolah.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, sebelumnya sempat menyoroti bahwa banyak peserta ujian yang belum sepenuhnya mantap dalam menentukan pilihan mata pelajaran mereka. Oleh karena itu, waktu pendaftaran yang diperluas ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh siswa.
"Jadi dalam rentang waktu yang ada, silahkan dituntaskan," tutur Rahmawati, sebagaimana dikutip dari arsip detikEdu pada Selasa (7/7/2026).
Selain perubahan jadwal pendaftaran, pelaksanaan TKA 2026 juga menyertakan penyempurnaan prosedur ujian yang didasarkan pada evaluasi pelaksanaan TKA tahun sebelumnya. Penyempurnaan ini bertujuan untuk meringankan beban peserta selama menjalani rangkaian tes.
Perubahan penting terjadi pada ujian mata pelajaran wajib, di mana penataan ulang jadwal dilakukan agar tidak lagi diujikan sekaligus dalam satu hari. Peserta kini hanya akan mengerjakan satu mata pelajaran wajib per hari, sehingga beban kognitif selama ujian menjadi lebih ringan.
Rahmawati menjelaskan latar belakang perubahan ini, menyatakan bahwa evaluasi sebelumnya menunjukkan adanya keluhan dari peserta mengenai padatnya jadwal ujian. "Tahun ini untuk mata pelajaran wajib tidak lagi diujikan satu hari, tapi satu hari satu mata pelajaran karena kemarin satu hari tiga mata pelajaran banyak yang mengeluh. Sekarang, kita bagi satu hari, satu mata pelajaran (wajib)," tutur Rahmawati.
