POLA JABAR – Surutnya air banjir bukan berarti ancaman bagi masyarakat telah berakhir. Di balik sisa lumpur dan genangan air yang masih tertinggal, terdapat ancaman kesehatan serius yang mengintai, salah satunya adalah penyakit Leptospirosis.

Penyakit ini kerap muncul sebagai "teror" pascabanjir karena penularannya yang sangat cepat melalui air atau tanah yang terkontaminasi urin hewan, terutama tikus.

Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui selaput lendir (mata atau hidung) atau luka terbuka pada kulit.

Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti kerusakan ginjal, meningitis, hingga kegagalan hati.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Masyarakat diminta untuk tidak meremehkan gangguan kesehatan yang muncul dalam rentang waktu dua hingga empat minggu setelah terpapar air banjir. Gejala umum Leptospirosis sering kali mirip dengan flu (flu-like symptoms), di antaranya:

  • Demam tinggi mendadak.
  • Sakit kepala hebat dan nyeri otot, terutama pada bagian betis.
  • Mata merah atau kekuningan.
  • Mual, muntah, dan diare.

Langkah Pencegahan di Area Terdampak

Dinas Kesehatan sering kali menekankan pentingnya kebersihan lingkungan sebagai benteng utama. Berikut adalah langkah praktis untuk mencegah penularan Leptospirosis saat membersihkan rumah pascabanjir: