POLA JABAR - Bagi para pencinta kuliner laut, menyantap kepiting adalah sebuah kemewahan tersendiri. Namun, tantangan terbesarnya bukan hanya cara memasaknya, melainkan cara memilih bahan bakunya. Seringkali kita terkecoh membeli kepiting yang terlihat besar, namun saat dimasak, isinya justru "kosong" atau dagingnya sudah hancur.

Mengutip panduan dari laman kuliner ternama The Spruce Eats, kualitas kepiting ditentukan sejak ia masih berada di tangan pedagang. Memilih kepiting segar bukan sekadar soal ukuran, tapi soal kejelian melihat tanda-tanda kehidupan dan berat proporsionalnya. Berikut adalah panduan detail agar Anda tidak salah pilih.

1. Utamakan Kepiting yang Masih Hidup dan Agresif

Langkah pertama yang paling krusial adalah memastikan kepiting masih dalam keadaan hidup. Kepiting yang sudah mati memiliki risiko tinggi terhadap pertumbuhan bakteri karena dagingnya cepat sekali membusuk.

Saat berada di pasar atau toko seafood, perhatikan pergerakannya. Pilih kepiting yang terlihat agresif atau responsif saat disentuh. Jika kepiting berada dalam ikatan tali, perhatikan gerakan di area mulut atau kakinya. Kepiting yang lemas atau diam saja biasanya sudah berada terlalu lama di tangki penyimpanan dan kualitas dagingnya mulai menurun.

2. Rasakan Beratnya (Heavy for Their Size)

Salah satu kesalahan pemula adalah memilih kepiting berdasarkan dimensi cangkangnya saja. Padahal, kepiting besar belum tentu memiliki daging yang penuh.

Gunakan tangan Anda untuk menimbang beratnya secara manual. Kepiting yang segar dan berkualitas harus terasa berat untuk ukurannya (heavy for their size). Jika kepiting terasa ringan atau seolah "berongga" saat diangkat, besar kemungkinan ia sedang dalam masa pergantian kulit (molting). Pada fase ini, kepiting akan menggunakan cadangan nutrisinya sehingga dagingnya menyusut dan digantikan oleh air.

3. Periksa Tekstur Cangkang Bawah