POLA JABAR - Bagi banyak orang, es krim adalah definisi kebahagiaan dalam setiap suapan. Namun, bagi mereka yang sedang menjaga berat badan atau mengelola kondisi kesehatan seperti diabetes, kandungan gula yang tinggi pada es krim konvensional sering kali menjadi penghalang. 

Seperti dilansir dari Healthline, munculnya tren es krim rendah gula (low-sugar ice cream) seolah menjadi angin segar yang menjanjikan kenikmatan tanpa rasa bersalah. Namun, sebelum Anda memenuhi lemari es dengan produk ini, penting untuk memahami apa yang sebenarnya ada di dalam cup es krim "sehat" tersebut.

Transformasi Komposisi dalam Es Krim Rendah Gula

Es krim tradisional umumnya mengandalkan kombinasi susu, krim, gula, dan kuning telur. Untuk memangkas kalori dan kadar gula, produsen es krim rendah gula melakukan modifikasi besar-besaran pada resepnya. Biasanya, gula pasir digantikan dengan pemanis alternatif seperti gula alkohol (erythritol, xylitol), pemanis intensitas tinggi (stevia, monk fruit), atau serat larut (chicory root fiber).

Selain itu, untuk mempertahankan tekstur lembut yang biasanya dihasilkan oleh lemak susu dan gula, produsen seringkali menambahkan pengental alami atau sintetis serta melakukan proses pengadukan yang lebih intens agar lebih banyak udara yang masuk ke dalam adonan.

Pemanis Alternatif: Keuntungan dan Efek Sampingnya

Salah satu alasan mengapa es krim rendah gula sangat populer adalah indeks glikemiknya yang rendah. Pemanis seperti Stevia atau Erythritol tidak menyebabkan lonjakan gula darah secara drastis, menjadikannya pilihan yang lebih ramah bagi penderita diabetes.

Namun, ada sisi lain yang perlu diperhatikan. Gula alkohol (sugar alcohols), meskipun rendah kalori, dapat menyebabkan gangguan pencernaan pada beberapa orang jika dikonsumsi berlebihan. Gejala seperti perut kembung, gas, hingga efek laksatif (diare) sering kali muncul karena tubuh tidak menyerap gula alkohol sepenuhnya di usus kecil.

Kandungan Kalori dan Lemak: Jangan Terjebak Angka