POLA JABAR - Di balik cangkangnya yang keras, almond menyimpan narasi panjang yang membentang ribuan tahun. Jauh sebelum menjadi tren superfood di kafe-kafe modern, almond telah menduduki posisi istimewa dalam struktur sosial, ritual keagamaan, hingga peta perdagangan bangsa-bangsa kuno. Berdasarkan catatan sejarah yang kerap diulas oleh Smithsonian Magazine, almond adalah salah satu pohon buah tertua yang didomestikasi oleh manusia.
Kisah almond bukanlah sekadar tentang ketahanan pangan, melainkan tentang simbol kekuasaan, kesuburan, dan misteri yang tersimpan dalam makam-makam raja.
Menariknya, nenek moyang almond liar sebenarnya mengandung sianida yang mematikan. Namun, para leluhur kita di wilayah Mediterania dan Asia Tengah berhasil melakukan "keajaiban" domestikasi. Sekitar tahun 3000 SM, bangsa-bangsa kuno mulai menyeleksi pohon yang menghasilkan kacang manis (non-toksik).
Kemampuan manusia purba untuk menjinakkan almond menandai titik balik penting dalam sejarah agrikultur. Almond menjadi komoditas berharga karena daya tahannya yang luar biasa; ia bisa disimpan berbulan-bulan tanpa busuk, menjadikannya bekal perjalanan yang sempurna bagi para kafilah pedagang di Jalur Sutra.
Bagi bangsa Mesir Kuno, almond bukan sekadar bahan pangan. Ia adalah simbol keberuntungan dan kehidupan setelah kematian. Bukti paling otentik ditemukan pada tahun 1922, ketika para arkeolog membuka makam Firaun muda, Tutankhamun. Di antara tumpukan harta karun emasnya, terdapat segenggam almond yang diletakkan dalam wadah khusus.
Masyarakat Mesir percaya bahwa keharuman dan nutrisi almond akan menemani sang raja dalam perjalanannya menuju alam baka. Penggunaan minyak almond dalam ritual kecantikan bangsawan Mesir juga menjadi cikal bakal industri kosmetik berbasis kacang-kacangan yang kita kenal hari ini.
Bergeser ke utara, bangsa Romawi Kuno menjuluki almond sebagai "Kacang Yunani" (nux Graeca). Di sana, almond menjadi elemen wajib dalam perayaan pernikahan. Para tamu akan melemparkan almond ke arah pengantin sebagai simbol kesuburan, kesehatan, dan kemakmuran sebuah tradisi yang jejaknya masih bisa kita temukan dalam bentuk confetti atau bingkisan gula-gula di pernikahan modern.
Dalam mitologi Yunani, pohon almond dikaitkan dengan kisah cinta yang tragis antara Phyllis dan Demophon. Konon, pohon almond yang pertama kali berbunga sebelum daunnya tumbuh melambangkan harapan yang abadi. Inilah mengapa almond sering digambarkan dalam seni rupa kuno sebagai tanda musim semi dan kebangkitan alam.
Penyebaran almond ke seluruh dunia tidak lepas dari peran para penjelajah yang melintasi Jalur Sutra. Dari dataran tinggi Iran dan Turki, almond dibawa menuju Tiongkok, hingga akhirnya mencapai Spanyol dan California melalui misi para biarawan pada abad ke-18.