POLA JABAR - Es krim telah lama menjadi simbol kebahagiaan universal. Di balik teksturnya yang lembut dan sensasi dingin yang menyegarkan, tersimpan perjalanan panjang yang melintasi benua dan peradaban. Banyak yang mengira es krim adalah penemuan modern, namun kenyataannya, akar dari hidangan beku ini telah tertanam sejak ribuan tahun yang lalu.
Asal-usul es krim tidak dapat merujuk pada satu tanggal pasti atau satu penemu tunggal. Catatan sejarah menunjukkan bahwa bentuk awal es krim lebih menyerupai "es serut" daripada krim yang kita kenal sekarang. Pada masa kuno, para penguasa di Timur Tengah dan Asia mengonsumsi salju yang diambil langsung dari puncak gunung. Salju ini kemudian dicampur dengan madu, buah-buahan, atau sari bunga untuk menciptakan hidangan penutup yang mewah di tengah cuaca panas.
Kaisar Romawi, Nero, dikenal sebagai salah satu penggemar berat hidangan ini. Ia kerap mengirim pelari ke pegunungan hanya untuk mengambil es yang kemudian segera disajikan dengan campuran buah. Di sisi lain, bangsa China pada masa Dinasti Tang (618-907 M) mulai mengembangkan metode yang lebih maju dengan mencampurkan susu kerbau, tepung, dan kamper yang kemudian dibekukan di dalam wadah logam yang dikelilingi campuran es dan garam.
Salah satu teori yang paling populer dalam sejarah kuliner adalah keterlibatan Marco Polo. Sekembalinya dari perjalanannya ke China pada abad ke-13, penjelajah asal Italia ini diyakini membawa resep metode pembekuan yang menyerupai sorbet. Resep inilah yang kemudian menyebar di kalangan bangsawan Italia dan berkembang menjadi cikal bakal es krim berbasis susu.
Pengaruh Italia semakin kuat ketika Catherine de' Medici pindah ke Prancis pada tahun 1533 untuk menikah dengan Raja Henry II. Ia membawa serta koki-koki pribadinya yang memiliki keahlian membuat hidangan es yang eksotis. Sejak saat itu, es krim menjadi simbol status sosial yang sangat tinggi di Eropa, hanya bisa dinikmati oleh kaum elit karena biaya pengadaan es yang sangat mahal di masa itu.
Es krim pertama kali menginjakkan kaki di Amerika Serikat bersama para imigran Eropa. Di sana, hidangan ini digemari oleh tokoh-tokoh besar seperti George Washington dan Thomas Jefferson. Bahkan, dikabarkan bahwa Washington menghabiskan banyak uang hanya untuk membeli peralatan pembuatan es krim.
Namun, titik balik sesungguhnya terjadi pada abad ke-19. Pada tahun 1843, seorang wanita bernama Nancy Johnson menemukan alat pengaduk es krim manual (hand-cranked freezer). Penemuan ini mengubah segalanya. Proses pembuatan yang tadinya memakan waktu lama dan melelahkan menjadi jauh lebih efisien. Tekstur es krim pun menjadi lebih halus karena proses pengadukan yang konsisten.
Seiring dengan ditemukannya teknologi mesin pendingin (refrigerasi) oleh Carl von Linde pada akhir 1800-an, ketergantungan pada es alami dari gunung pun berakhir. Es krim tidak lagi menjadi barang mewah yang langka. Pabrik-pabrik es krim mulai bermunculan, membuat harga menjadi terjangkau dan memungkinkan masyarakat luas untuk menikmatinya.
Abad ke-20 membawa inovasi yang tak terbendung. Penemuan kerucut es krim (ice cream cone) pada pameran dunia di St. Louis tahun 1904 memberikan cara baru yang praktis untuk menikmati es krim sambil berjalan. Tak lama kemudian, variasi seperti soft serve, es krim stik, hingga sundae mulai membanjiri pasar.