POLA JABAR - Siapa yang tidak mengenal melon? Buahnya yang berair, aromanya yang harum, serta rasa manisnya yang khas menjadikan melon sebagai hidangan penutup favorit di seluruh dunia. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, dari mana sebenarnya asal buah ini sebelum dibudidayakan secara masif di kebun-kebun modern seperti sekarang?
Melansir catatan sejarah dan penelitian arkeobotani yang sering diulas oleh National Geographic, perjalanan melon ternyata jauh lebih kompleks dan menarik daripada yang kita bayangkan.
Meskipun saat ini banyak negara memiliki varietas lokal, para ilmuwan meyakini bahwa nenek moyang melon berasal dari wilayah tropis Afrika atau Asia Barat. Berdasarkan bukti DNA tumbuhan, wilayah-wilayah seperti Iran, India, hingga wilayah gurun di Afrika merupakan tempat di mana kerabat liar melon pertama kali ditemukan.
Pada masa purba, melon liar sangat berbeda dengan yang kita kenal sekarang. Ukurannya cenderung kecil, pahit, dan tidak memiliki daging buah yang tebal. Manusia zaman dahulu kemungkinan besar tidak mengonsumsi daging buahnya, melainkan memanfaatkan bijinya yang kaya akan minyak dan protein.
Salah satu bukti tertulis dan visual paling awal mengenai domestikasi melon ditemukan di Mesir. Melalui lukisan-lukisan dinding pada makam-makam kuno yang berasal dari 2400 SM, terlihat penggambaran buah yang sangat mirip dengan melon.
Bangsa Mesir Kuno dikenal sebagai salah satu peradaban pertama yang berhasil melakukan seleksi benih. Mereka memilih melon yang paling manis dan memiliki kadar air tinggi untuk dibudidayakan. Bagi mereka, buah ini bukan sekadar makanan, melainkan simbol kesegaran di tengah panasnya iklim gurun dan sering dijadikan persembahan bagi para dewa.
Penyebaran melon ke seluruh dunia tidak lepas dari peran perdagangan lintas benua. Melalui Jalur Sutra, melon dibawa dari Asia Tengah menuju wilayah Mediterania. Iklim yang hangat di wilayah seperti Italia dan Yunani ternyata sangat cocok bagi pertumbuhan melon.
Di Eropa, buah ini sempat menjadi simbol status sosial yang tinggi. Pada abad pertengahan, hanya kaum bangsawan yang mampu menikmati melon karena teknik penanamannya yang membutuhkan perhatian ekstra di iklim yang lebih dingin. Dari sinilah muncul berbagai varietas terkenal seperti Cantaloupe, yang namanya diambil dari sebuah kota kecil di Italia, Cantalupo, tempat melon tersebut dikembangkan di kebun milik kepausan.
Ketika para penjelajah Eropa mulai berlayar ke benua Amerika pada abad ke-15 dan 16, mereka membawa serta biji melon. Tanpa waktu lama, melon pun menyebar luas di wilayah Amerika Utara dan Selatan, beradaptasi dengan kondisi tanah yang beragam.