POLA JABAR - Permen dengan warna cerah dan rasa manis yang menggoda seringkali menjadi camilan favorit bagi anak-anak dan orang dewasa. Namun, dibalik kelezatannya, permen menyimpan konsentrasi tinggi dari zat yang menjadi perhatian utama organisasi kesehatan dunia yakni Gula Bebas (Free Sugars). World Health Organization (WHO) telah berulang kali mengeluarkan peringatan ketat mengenai konsumsi gula bebas yang berlebihan, yang sebagian besar disumbang oleh makanan olahan seperti permen, minuman manis, dan dessert.
Menurut WHO, gula bebas didefinisikan sebagai monosakarida (seperti glukosa dan fruktosa) dan disakarida (seperti sukrosa atau gula meja) yang ditambahkan ke dalam makanan oleh produsen, juru masak, atau konsumen. Ini juga mencakup gula yang secara alami terdapat dalam madu, sirup, jus buah, dan konsentrat jus buah.
Dalam konteks permen, hampir seluruh rasa manis yang kita nikmati berasal dari jenis gula bebas ini, seperti:
Sukrosa (Gula Tebu/Bit): Bahan utama pemanis.
Sirup Glukosa atau Sirup Jagung Tinggi Fruktosa (HFCS): Digunakan untuk memberi tekstur dan mencegah kristalisasi, sekaligus meningkatkan rasa manis.
Maltosa dan Dekstrosa: Pemanis tambahan yang sering digunakan.
Satu bungkus permen kecil atau beberapa potong gummy candies saja sudah dapat menyumbang persentase signifikan dari batas asupan gula harian yang direkomendasikan WHO. Konsentrasi gula yang sangat tinggi inilah yang menjadi akar masalah kesehatan global.
Risiko Jangka Pendek: Melampaui Kerusakan Gigi
Dampak paling umum dan segera dari konsumsi permen berlebihan adalah pada kesehatan mulut. WHO secara tegas menyatakan bahwa ada hubungan langsung antara asupan gula bebas dan peningkatan risiko Karies Gigi (Gigi Berlubang).