POLA JABAR - Gula, dalam konteks nutrisi atletik, merujuk pada karbohidrat sederhana dan kompleks yang merupakan sumber energi primer bagi tubuh, sebuah konsep yang sangat mendasar dan krusial bagi peningkatan performa. Ketika dikonsumsi, karbohidrat dipecah menjadi glukosa yang kemudian disimpan dalam otot dan hati sebagai glikogen. 

Glikogen inilah yang bertindak sebagai "tangki bahan bakar" yang cepat diakses dan efisien digunakan oleh otot, terutama selama aktivitas fisik berintensitas tinggi atau dalam durasi yang panjang, seperti lari maraton, bersepeda, atau pertandingan sepak bola. Ketersediaan glikogen yang optimal adalah penentu utama daya tahan atletik; semakin penuh cadangan glikogen, semakin lama seorang atlet dapat mempertahankan tingkat performa tinggi sebelum mengalami kelelahan. 

Oleh karena itu, strategi carbohydrate loading (memaksimalkan simpanan glikogen sebelum kompetisi) dan asupan karbohidrat selama aktivitas menjadi protokol yang tidak terpisahkan dalam diet atlet profesional.

Namun demikian, meskipun gula esensial, konsumsi yang tidak teratur atau berlebihan juga membawa risiko yang dapat menghambat performa dan kesehatan jangka panjang. 

Salah satu masalah terbesar yang muncul dari asupan gula yang tinggi dan cepat serap (seperti minuman manis atau gel energi yang tidak dikombinasikan dengan nutrisi lain) adalah lonjakan kadar glukosa darah yang tiba-tiba, yang kemudian diikuti oleh respons insulin yang cepat dan kuat. 

Lonjakan insulin ini dapat menyebabkan penurunan kadar glukosa darah secara drastis (hypoglycemia reaktif), sebuah kondisi yang sering dialami beberapa atlet dalam waktu singkat setelah mengonsumsi gula berlebih, yang mengakibatkan gejala seperti pusing, lemas, dan kelelahan mendadak sebuah kondisi yang dikenal sebagai sugar crash

Lebih lanjut, konsumsi gula berlebih secara kronis di luar kebutuhan latihan dapat berkontribusi pada penambahan berat badan yang tidak diinginkan dan peningkatan risiko resistensi insulin, suatu kondisi yang bertentangan dengan tujuan kebugaran seorang atlet.

Strategi yang efektif dan didukung oleh literatur ilmiah, termasuk yang dipublikasikan dalam Sports Medicine Journal, menekankan pentingnya waktu dan jenis karbohidrat yang dikonsumsi. Sebelum latihan atau kompetisi, fokus adalah pada karbohidrat kompleks (berindeks glikemik rendah hingga sedang) seperti oatmeal atau roti gandum, untuk memberikan energi yang dilepaskan secara bertahap dan berkelanjutan. 

Selama aktivitas berdurasi panjang (lebih dari 60-90 menit), barulah karbohidrat sederhana (gula) menjadi sangat penting untuk pasokan energi instan dan menjaga kadar glukosa darah.