POLA JABAR - Menjalankan ibadah puasa menuntut tubuh untuk beradaptasi dengan ketiadaan asupan nutrisi selama lebih dari 12 jam. Dalam kondisi ini, sahur menjadi momentum paling krusial untuk mengisi "tangki bahan bakar" tubuh. Namun, banyak orang yang masih salah kaprah dengan mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah besar tanpa memperhatikan jenisnya.

Merujuk pada literasi kesehatan dari Harvard Health Publishing, kunci utama untuk mempertahankan energi dan mencegah rasa kantuk yang berlebihan di siang hari bukan terletak pada kuantitas makanan, melainkan pada indeks glikemik dan struktur karbohidrat yang dikonsumsi. Karbohidrat kompleks muncul sebagai pemenang mutlak untuk menu sahur yang berkualitas.

Karbohidrat sederhana, seperti yang ditemukan pada nasi putih, roti putih, atau makanan manis, memiliki struktur molekul yang pendek. Tubuh dapat memecahnya dengan sangat cepat, yang mengakibatkan lonjakan gula darah secara instan. Kondisi ini memang memberikan energi cepat, namun akan segera diikuti dengan penurunan kadar gula darah secara drastis (sugar crash). Akibatnya, baru beberapa jam setelah subuh, tubuh akan merasa lemas, gemetar, dan rasa lapar menyerang lebih awal.

Sebaliknya, karbohidrat kompleks seperti yang terdapat pada gandum utuh, beras merah, quinoa, dan umbi-umbian memiliki struktur molekul rantai panjang. Tubuh memerlukan waktu yang lebih lama untuk memproses molekul ini menjadi glukosa. Proses pemecahan yang lambat ini memastikan pasokan energi dialirkan ke dalam darah secara bertahap dan konsisten.

Salah satu alasan mengapa karbohidrat kompleks sangat disarankan oleh para pakar di Harvard adalah kandungan seratnya yang tinggi. Serat tidak hanya berfungsi melancarkan pencernaan, tetapi juga berperan sebagai penghambat laju pengosongan lambung.

Saat Anda mengonsumsi makanan tinggi serat seperti oatmeal atau kacang-kacangan saat sahur, volume makanan di dalam perut bertahan lebih lama. Hal ini menekan produksi hormon ghrelin yang memicu rasa lapar. Dengan kata lain, karbohidrat kompleks membantu Anda merasa "kenyang secara biologis" dalam durasi yang jauh lebih panjang dibandingkan karbohidrat olahan.

Otak manusia sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama. Ketika kadar gula darah turun naik secara ekstrem akibat konsumsi karbohidrat yang salah, kemampuan konsentrasi dan daya ingat akan menurun di siang hari.

Dengan mengonsumsi karbohidrat kompleks, otak mendapatkan asupan glukosa yang stabil. Hal ini sangat penting bagi pekerja profesional atau pelajar yang tetap harus menjaga produktivitas meski sedang berpuasa. Energi yang stabil membantu mencegah "brain fog" atau perasaan linglung yang sering muncul saat menjelang waktu ashar.

Meskipun karbohidrat kompleks adalah bintang utamanya, Harvard Health menyarankan untuk tidak mengonsumsinya sendirian. Agar metabolisme berjalan lebih optimal, kombinasikan karbohidrat kompleks dengan protein tanpa lemak (seperti telur atau dada ayam) dan sedikit lemak sehat (seperti alpukat atau kacang-kacangan).