POLA JABAR – Susu telah menjadi bagian integral dari pola makan manusia selama ribuan tahun. Meskipun banyak tren diet datang dan pergi, cairan putih yang kaya nutrisi ini tetap bertahan sebagai salah satu komoditas pangan paling penting di dunia. Melansir data sejarah dari Encyclopaedia Britannica, fenomena ini bukan sekadar masalah kebiasaan, melainkan hasil dari evolusi panjang yang melibatkan biologi, budaya, dan kebutuhan akan kelangsungan hidup.
Secara historis, konsumsi susu oleh manusia dewasa dimulai sekitar 10.000 tahun yang lalu, bertepatan dengan revolusi neolitikum ketika manusia mulai menjinakkan hewan ternak seperti sapi, domba, dan kambing.
Pada awalnya, manusia tidak dirancang secara biologis untuk mencerna susu setelah masa kanak-kanak. Namun, tekanan lingkungan dan kebutuhan akan sumber energi yang stabil mendorong terjadinya perubahan genetik yang signifikan.
Kemampuan untuk mencerna laktosa gula utama dalam susu di masa dewasa dikenal sebagai persistensi laktase. Mutasi genetik ini menyebar dengan cepat di populasi Eropa Utara dan sebagian Afrika karena memberikan keuntungan besar bagi mereka yang mampu memanfaatkannya sebagai sumber protein dan kalsium yang konsisten, terutama saat musim paceklik atau kegagalan panen.
Salah satu alasan utama mengapa susu tetap dikonsumsi hingga kini adalah profil nutrisinya yang sangat lengkap. Susu mengandung protein berkualitas tinggi, lemak, karbohidrat, serta vitamin dan mineral esensial seperti vitamin B12, vitamin D, dan kalsium. Dalam satu gelas susu, seseorang bisa mendapatkan asupan energi yang padat, yang sulit ditemukan pada sumber pangan tunggal lainnya pada masa lampau.
Selain itu, fleksibilitas susu dalam pengolahan menjadi nilai tambah yang luar biasa. Sebelum adanya teknologi pendingin, manusia belajar mengawetkan nutrisi susu dengan mengubahnya menjadi keju, mentega, atau yogurt.
Proses fermentasi ini tidak hanya memperpanjang masa simpan tetapi juga mengurangi kadar laktosa, sehingga lebih mudah dicerna oleh mereka yang memiliki intoleransi laktosa ringan.
Memasuki era industri, konsumsi susu mendapatkan dorongan besar melalui inovasi teknologi. Penemuan proses pasteurisasi oleh Louis Pasteur pada abad ke-19 mengubah wajah industri susu. Teknologi ini memungkinkan susu didistribusikan secara massal dengan aman tanpa risiko penyakit menular. Sejak saat itu, susu dipandang sebagai simbol kesehatan publik dan kemajuan gizi.
Hingga hari ini, industri susu terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Meskipun muncul berbagai alternatif susu nabati, posisi susu hewani tetap kokoh karena struktur proteinnya yang kompleks dan ketersediaannya yang luas. Dukungan dari berbagai lembaga kesehatan dunia yang merekomendasikan susu untuk pertumbuhan tulang pada anak-anak juga memperkuat statusnya sebagai makanan pokok global.