POLA JABAR - Keju Feta bukan sekadar bahan makanan; ia adalah simbol kebanggaan nasional, warisan kuliner, dan salah satu produk tertua di Yunani yang masih dinikmati hingga hari ini. Sejarah Feta membentang ribuan tahun ke belakang, jauh sebelum Yunani modern berdiri. Catatan paling awal tentang keju mirip Feta bahkan dapat ditemukan dalam epik Yunani kuno, Odyssey karya Homer, yang ditulis sekitar abad ke-8 SM.
Dalam kisah tersebut, diceritakan bahwa Cyclops bernama Polyphemus adalah pembuat keju pertama yang menyimpan susu domba dan kambing dalam kantung kulit kambing di gua. Meskipun tekniknya telah berkembang pesevolusi, prinsip dasarnya mengubah susu menjadi keju brine (direndam air garam) yang padat dan crumbly (mudah hancur) tetap sama.
Hal ini menunjukkan bahwa metode pembuatan keju putih berair garam sudah menjadi bagian integral dari kehidupan pedesaan dan diet Mediterania Yunani sejak zaman kuno. Feta, yang namanya sendiri berarti "irisan" (mengacu pada cara keju ini diiris dari wadah penyimpanannya), benar-benar mewakili DNA kuliner Yunani yang kaya dan tak lekang oleh waktu.
Keunikan rasa Feta sangat dipengaruhi oleh geografi dan lingkungan alam Yunani, yang merupakan alasan utama mengapa Uni Eropa memberikan status Protected Designation of Origin (PDO) pada keju ini. Menurut aturan PDO, agar dapat disebut 'Feta', keju tersebut harus dibuat secara eksklusif di wilayah tertentu di Yunani, seperti Makedonia, Thrace, Thessaly, atau pulau Lesbos dan Crete.
Syarat utamanya adalah keju ini harus dibuat dari minimal 70% susu domba dan sisanya susu kambing yang berasal dari hewan yang dibesarkan secara lokal. Hewan-hewan ini digembalakan di padang rumput Yunani yang kaya akan berbagai jenis tanaman dan herba endemik, yang kemudian memberikan aroma dan rasa earthy unik pada susu mereka.
Proses pembuatannya pun masih mempertahankan metode tradisional: dadih diiris dan ditekan, lalu direndam dalam larutan air garam (brine) selama minimal dua bulan. Proses perendaman inilah yang memberikan tekstur yang agak asin dan rasa tajam yang sangat khas, membedakannya dari semua keju putih lainnya.
Keterikatan Feta dengan identitas nasional Yunani semakin diperkuat pada abad ke-20. Setelah mendapat status PDO, Yunani secara hukum memiliki hak eksklusif atas nama 'Feta' di Uni Eropa, sebuah keputusan yang didukung oleh bukti sejarah dan tradisi yang tak terbantahkan.
Keputusan ini secara efektif melindungi metode pembuatan tradisional Feta dari upaya peniruan. Keju ini bukan hanya dinikmati sebagai bagian dari Salad Yunani (Horiatiki), tetapi juga digunakan dalam berbagai hidangan tradisional seperti Spanakopita (pai bayam) atau disajikan bersama minyak zaitun dan oregano.
Teksturnya yang crumbly dan rasanya yang sedikit tajam dengan sentuhan rasa asin menjadikannya komponen yang sempurna untuk memotong rasa minyak zaitun dan menyegarkan palet, menjadikannya elemen yang tak tergantikan dalam hampir setiap masakan Yunani otentik.