POLA JABAR – Banyak penumpang pesawat mengeluhkan rasa pusing saat pesawat mengalami turbulensi.

Meski fenomena ini umum terjadi dan umumnya tidak berbahaya, perubahan gerakan mendadak dari pesawat bisa menimbulkan reaksi fisik pada tubuh, terutama pada sistem keseimbangan.

Secara sederhana, turbulensi terjadi karena perubahan aliran udara yang membuat pesawat bergoyang atau bergetar.

Ketika tubuh merasakan gerakan naik-turun atau guncangan, tetapi mata tidak melihat perubahan yang sesuai, terjadi ketidaksinkronan antara indra penglihatan dan sistem keseimbangan di telinga bagian dalam.

Ketidaksesuaian sinyal inilah yang memicu motion sickness, yaitu kondisi ketika otak menerima informasi gerakan yang saling bertentangan.

Akibatnya, sebagian penumpang dapat mengalami pusing, mual, keringat dingin, hingga rasa tidak nyaman.

Faktor lain seperti cemas atau tegang selama penerbangan, kurang tidur, hingga perut kosong juga dapat memperparah rasa pusing saat turbulensi.

Meski begitu, kondisi ini biasanya hilang dengan sendirinya setelah tubuh kembali stabil dan pesawat melaju di udara yang lebih tenang.***