POLA JABAR - Menemukan kedai gelato saat sedang berjalan-jalan di tengah kota memang terasa seperti menemukan oase yang menyegarkan. Namun, bagi para penikmat kuliner sejati, tidak semua gundukan warna-warni di balik kaca etalase adalah gelato yang otentik. Sering kali, kita terjebak pada estetika visual yang menggoda namun sebenarnya merupakan indikator kualitas yang rendah.

Mengacu pada prinsip dasar pemilihan gelato yang kerap diulas oleh kritikus kuliner di Bon Appétit, berikut adalah deretan kesalahan umum yang sering dilakukan saat memilih gelato dan cara menghindarinya.

1. Tergoda oleh Gundukan yang Menggunung tinggi

Salah satu kesalahan paling klasik adalah menganggap bahwa gelato yang ditumpuk tinggi hingga melampaui batas wadah logamnya adalah gelato yang bagus. Faktanya, secara fisika, gelato asli memiliki titik leleh yang cukup rendah. Jika gelato bisa berdiri tegak membentuk gunungan raksasa tanpa meleleh, itu adalah pertanda kuat bahwa adonan tersebut mengandung zat penstabil (stabilizer) dan pengemulsi dalam jumlah tinggi.

Gelato otentik biasanya disimpan dalam wadah yang lebih datar atau bahkan tersembunyi di dalam silinder logam tertutup yang disebut pozzetti. Hal ini dilakukan untuk menjaga suhu ideal agar tekstur tetap lembut tanpa harus mengandalkan bahan kimia tambahan.

2. Memilih Warna yang Terlalu Mencolok (Neon)

Warna hijau terang yang berpendar untuk rasa pistacio atau kuning menyala untuk rasa pisang mungkin terlihat menarik untuk difoto, namun itu adalah tanda bahaya bagi lidah Anda. Bahan-bahan alami jarang menghasilkan warna yang seekstrem itu setelah dicampur dengan susu dan krim.

Gelato pistacio yang asli seharusnya berwarna hijau kecokelatan kusam, mirip dengan warna kacang aslinya. Sementara itu, rasa pisang yang otentik akan berwarna putih gading atau sedikit keabu-abuan, bukan kuning terang. Warna-warna "neon" adalah indikator penggunaan pewarna buatan dan perisa sintetis yang akan menutupi keaslian rasa bahan utamanya.

3. Mengabaikan Tekstur dan Kilauan (Glossiness)