POLA JABAR - Nasib malang menimpa Rahman Ramdani, seorang pria asal Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Impiannya untuk memperbaiki taraf ekonomi dengan merantau ke Sorong, Papua Barat, justru berujung pada kondisi terlantar. 

Kini, ia berada ribuan kilometer dari rumah tanpa biaya untuk kembali, sementara keluarganya di kampung halaman sedang dirundung duka akibat sang orang tua yang menderita stroke.

Perjalanan Rahman dimulai pada 7 Maret 2026. Ia nekat berangkat ke Sorong setelah melihat lowongan kerja di media sosial yang menjanjikan pendapatan menggiurkan, yakni sekitar Rp6 juta hingga Rp8 juta per bulan di sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit.

“Selain itu kami juga dijanjikan akan mendapatkan fasilitas tempat tinggal, kasur untuk istirahat, serta sembako gratis selama satu bulan pertama,” ujar Rahman, Kamis (2/4/2026).

Rahman berangkat bersama 16 orang lainnya. Namun, setibanya di sana, kenyataan pahit harus ia telan setelah menjalani tes kesehatan pada 16 Maret 2026. Rahman dinyatakan gugur dalam seleksi tersebut.

“Saya dinyatakan tidak lolos karena kondisi mata minus jarak jauh serta riwayat saraf kejepit yang pernah saya alami pada tahun 2017,” katanya.

Harapan untuk segera pulang pun sirna. Rencana pemulangan yang dijanjikan oleh pihak agen pada akhir Maret tidak kunjung terlaksana. Tanpa kejelasan, Rahman pun harus bertahan hidup dengan sisa tenaga dan perbekalan yang kian menipis.

“Selama kurang lebih empat hari saya menunggu kepastian mengenai pemulangan tersebut, namun belum ada keputusan yang jelas,” ungkapnya.

Karena kehabisan biaya, Rahman terpaksa melapor ke kepolisian setempat dan kini menumpang di sebuah rumah singgah di Sorong. Kondisinya sangat memprihatinkan karena ia sama sekali tidak memiliki dana untuk membeli tiket pulang.