POLA JABAR - Pedoman kesehatan global secara luas merekomendasikan pembatasan asupan natrium (garam) untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, terutama hipertensi atau tekanan darah tinggi. Konsensus umum telah lama berpegangan pada premis bahwa semakin rendah asupan garam, semakin baik bagi kesehatan jantung.
Namun, di balik keyakinan yang kuat ini, terdapat kontroversi ilmiah yang signifikan yang terus menjadi perdebatan sengit di antara para ahli kardiologi dan ahli gizi. Data dan penelitian terbaru, termasuk yang dipublikasikan dalam jurnal bergengsi seperti The BMJ (British Medical Journal), mulai menyoroti bahwa pembatasan natrium secara ekstrem yaitu asupan yang terlalu rendah mungkin tidak hanya tidak memberikan manfaat tambahan, tetapi dalam beberapa kasus berpotensi menimbulkan risiko kesehatan yang tak terduga, terutama pada individu dengan kondisi kesehatan tertentu atau pada populasi umum yang sehat.
Inti dari kontroversi ini terletak pada konsep "zona emas" atau sweet spot asupan natrium. Meskipun memang ada bukti kuat bahwa asupan natrium yang sangat tinggi (di atas 5.000 mg per hari) secara jelas berhubungan dengan peningkatan risiko hipertensi dan penyakit jantung, data tidak selalu menunjukkan hasil yang linier di ujung spektrum yang sangat rendah.
Beberapa penelitian observasional besar menemukan fenomena yang dikenal sebagai kurva J terbalik (reverse J-curve) ketika membandingkan asupan natrium dengan angka kematian kardiovaskular. Kurva ini menunjukkan bahwa risiko kesehatan meningkat tidak hanya ketika asupan natrium terlalu tinggi, tetapi juga ketika asupan natrium turun terlalu rendah, seringkali di bawah 2.500 mg per hari.
Kondisi ini memicu pertanyaan kritis: apakah rekomendasi universal untuk membatasi asupan hingga di bawah 1.500 mg per hari benar-benar tepat untuk setiap individu, atau hanya berlaku bagi mereka yang sudah didiagnosis hipertensi atau gagal jantung?
Dampak merugikan dari pembatasan garam yang berlebihan terkait dengan beberapa respons fisiologis tubuh yang kompleks. Ketika asupan natrium menurun drastis, tubuh merespons dengan mengaktifkan sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS), sebuah mekanisme hormonal yang berfungsi untuk menahan natrium.
Aktivasi RAAS ini, yang melibatkan peningkatan kadar renin dan aldosteron, dapat menyebabkan peningkatan kadar kolesterol dan resistensi insulin dua faktor risiko utama penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2.
Selain itu, asupan natrium yang terlalu rendah berisiko menyebabkan hiponatremia, suatu kondisi di mana konsentrasi natrium dalam darah menjadi abnormal, yang dapat menyebabkan gejala serius seperti kebingungan mental, kejang, dan dalam kasus ekstrem, kematian.
Pandangan yang semakin berkembang, yang didukung oleh tinjauan sistematis dalam The BMJ, menyarankan bahwa fokus harus beralih dari pembatasan ekstrem menjadi moderasi yang bijaksana yaitu menargetkan asupan dalam rentang sedang (3.000 hingga 5.000 mg per hari) bagi sebagian besar populasi sehat, sambil tetap menekankan pembatasan yang lebih ketat bagi pasien hipertensi yang sensitif terhadap garam.***