POLA JABAR - Bagi umat Islam, kurma memiliki kedudukan yang sangat istimewa, melampaui statusnya sebagai makanan biasa. Kurma dikenal sebagai buah sunnah karena banyak anjuran dan contoh langsung dari Nabi Muhammad SAW mengenai konsumsinya.
Menjadikan kurma bagian dari pola makan bukan hanya mengikuti ajaran agama, tetapi juga membawa manfaat kesehatan yang luar biasa. Memahami anjuran ini adalah cara yang indah untuk menggabungkan spiritualitas dan kesejahteraan fisik dalam kehidupan sehari-hari.
Kurma dikaitkan dengan berbagai momen penting dalam Islam, mulai dari kelahiran hingga kematian. Salah satu praktik yang paling dikenal adalah berbuka puasa di bulan Ramadhan.
Anjuran untuk memulai iftar dengan kurma secara eksplisit disebutkan dalam berbagai riwayat, menegaskan pentingnya buah ini sebagai sumber energi yang cepat dan berkah. Ini menunjukkan bahwa kurma bukan hanya makanan pilihan, melainkan makanan yang memiliki nilai spiritual dan historis yang mendalam dalam tradisi Islam.
Dalam koleksi hadits terpercaya, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, terdapat penekanan kuat mengenai konsumsi kurma, khususnya kurma Ajwa dari Madinah.
Nabi Muhammad SAW bersabda mengenai kurma ini bahwa ia "mengandung penawar racun dan sihir." Meskipun konteksnya spiritual, pesan ini secara implisit mengakui nilai nutrisi dan kuratif yang terkandung dalam kurma. Para ulama menafsirkan hadits ini sebagai pengakuan akan sifat protektif kurma terhadap bahaya, baik fisik maupun spiritual.
Kurma dalam Tradisi dan Ibadah
1. Pembuka dan Penutup Puasa
Praktik paling umum yang melibatkan kurma adalah saat puasa. Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk berbuka dengan kurma, dan jika tidak ada, dengan air.