POLA JABAR - Dalam lembaran sejarah manusia, jarang sekali ditemukan bahan pangan yang memiliki kedudukan seistimewa almond. Merujuk pada catatan sejarah yang kerap diulas oleh National Geographic, almond bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan simbol harapan, kesuburan, dan kemakmuran yang telah mengakar selama ribuan tahun.
Simbol Kesuburan di Tanah Mediterania
Perjalanan almond dimulai dari wilayah Asia Tengah dan menyebar melalui Jalur Sutra hingga ke cekungan Mediterania. Di Yunani Kuno, pohon almond yang berbunga paling awal di musim semi dianggap sebagai simbol kebangkitan dan cinta yang tak kunjung padam.
Mitos menceritakan tentang Phyllis yang berubah menjadi pohon almond sebagai penantian setianya kepada Demophon; sebuah narasi yang menjadikan bunga almond sebagai lambang keteguhan hati.
Hingga hari ini, tradisi pernikahan di Yunani dan Italia masih menyertakan koufeta atau confetti almond berlapis gula.
Biasanya diberikan dalam jumlah ganjil (seringkali lima butir), almond ini melambangkan lima doa bagi pengantin baru: kesehatan, kekayaan, kebahagiaan, kesuburan, dan umur panjang. Rasa pahit almond asli yang tertutup manisnya gula menjadi metafora bagi kehidupan pernikahan yang harus dihadapi bersama dalam suka maupun duka.
Almond dalam Konteks Religi dan Spiritual
Dalam tradisi Ibrani dan teks-teks kuno, almond sering disebut sebagai "buah terbaik dari negeri ini." Tongkat Harun yang berbunga dan menghasilkan buah almond secara ajaib menjadi tanda legitimasi ilahi. Hal ini membuat almond menjadi simbol kewaspadaan dan janji Tuhan yang ditepati, karena pohon ini adalah yang pertama "terbangun" dari musim dingin.
Di belahan dunia lain, selama perayaan Imlek atau Tahun Baru China, almond menjadi bagian dari kudapan wajib. Kehadirannya melambangkan kecerahan masa depan dan kemampuan untuk bertahan di tengah kesulitan, mencerminkan ketangguhan pohon almond yang mampu tumbuh di lahan yang kering dan berbatu.