POLA JABAR - Susu telah lama menempati posisi istimewa dalam sejarah peradaban manusia, berevolusi dari sekadar komoditas pangan lokal menjadi minuman kesehatan paling universal di dunia.
Berdasarkan data dan perspektif dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), susu bukan hanya sekadar cairan putih bergizi, melainkan pilar penting dalam ketahanan pangan global yang menyediakan nutrisi esensial bagi miliaran orang di berbagai belahan bumi.
Popularitasnya yang tak lekang oleh waktu didorong oleh profil nutrisinya yang unik, mencakup protein berkualitas tinggi, kalsium, serta berbagai vitamin vital yang sulit digantikan oleh sumber pangan tunggal lainnya.
Keberhasilan susu menjadi minuman favorit global sangat dipengaruhi oleh kemampuannya beradaptasi dengan budaya kuliner lokal.
Di wilayah Barat, susu sering dinikmati dalam bentuk segar atau olahan fermentasi, sementara di wilayah Asia dan Afrika, susu diintegrasikan ke dalam minuman tradisional hingga masakan rumahan.
FAO mencatat bahwa sektor persusuan memainkan peran krusial dalam mendukung mata pencaharian jutaan petani kecil, yang secara langsung berkontribusi pada stabilitas ekonomi pedesaan di negara-negara berkembang. Hal ini menjadikan susu sebagai instrumen penggerak ekonomi sekaligus solusi kesehatan masyarakat.
Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pola hidup sehat, tren konsumsi susu global terus mengalami transformasi.
Inovasi dalam teknologi pengolahan dan distribusi memungkinkan produk susu menjangkau daerah-daerah terpencil dengan kualitas yang tetap terjaga.
Meskipun tantangan mengenai keberlanjutan lingkungan dan preferensi alternatif nabati mulai muncul, susu sapi tetap mendominasi pasar karena bioavailabilitas nutrisinya yang superior.