POLA JABAR - Keju adalah salah satu makanan paling dicintai di dunia, memberikan tekstur gurih dan rasa umami yang tak tertandingi pada berbagai hidangan. Namun, bagi sebagian individu, kenikmatan ini seringkali datang dengan konsekuensi yang terlihat jelas pada kulit. 

Dampak konsumsi keju, yang merupakan produk olahan susu (dairy), terhadap kesehatan kulit adalah topik yang telah banyak dibahas dalam dermatologi, dengan fokus utama pada peradangan dan pembentukan jerawat (acne vulgaris). Mekanisme di balik hubungan ini sangat kompleks, melibatkan hormon dan zat bioaktif yang secara alami ada dalam susu sapi. 

Salah satu komponen kunci adalah kehadiran Insulin-like Growth Factor 1 (IGF-1). Konsumsi produk susu, termasuk keju, dapat meningkatkan kadar IGF-1 dalam tubuh. Peningkatan IGF-1 ini merangsang kelenjar sebaceous (kelenjar minyak) di kulit untuk memproduksi sebum secara berlebihan. 

Sebum berlebih, dikombinasikan dengan sel kulit mati, menyumbat pori-pori dan menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan bakteri penyebab jerawat (P. acnes), sehingga memicu timbulnya jerawat, terutama pada individu yang sudah rentan.

Selain peran IGF-1, keju, seperti produk susu lainnya, juga mengandung hormon dan protein yang dapat mempengaruhi sistem endokrin dan respons peradangan dalam tubuh. Protein whey dan kasein, yang melimpah dalam keju, dipecah menjadi asam amino tertentu yang juga dipercaya dapat memicu jalur sinyal yang sama dengan IGF-1, yaitu jalur mTORC1. Aktivasi jalur ini tidak hanya meningkatkan produksi sebum, tetapi juga mendorong proliferasi sel-sel kulit (hiperkeratinisasi) yang berkontribusi pada penyumbatan folikel rambut. 

Penting untuk dicatat bahwa tingkat dampak ini sangat bervariasi antar individu, bergantung pada faktor genetik, sensitivitas hormon, dan jenis keju yang dikonsumsi. Keju yang memiliki kandungan lemak dan garam lebih tinggi, atau yang mengalami proses pengolahan lebih intensif, mungkin memiliki efek pro-inflamasi yang lebih kuat. 

Oleh karena itu, bagi mereka yang berjuang melawan jerawat kronis, mengurangi atau menghilangkan produk susu dan keju seringkali menjadi salah satu rekomendasi diet yang paling umum dalam upaya mendapatkan kulit yang lebih bersih.

Namun, tidak semua keju diciptakan sama, dan dampaknya tidak selalu negatif bagi semua orang. Keju fermentasi tertentu, seperti keju keras tua (misalnya Parmesan), umumnya memiliki kadar laktosa yang lebih rendah dibandingkan keju lunak atau susu cair. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa laktosa yang tinggi dapat menjadi pemicu jerawat pada sebagian orang. 

Selain itu, beberapa keju mengandung bakteri probiotik walaupun tidak sebanyak yogurt yang secara teori dapat mendukung mikrobioma usus yang sehat. Kesehatan usus memiliki korelasi kuat dengan kesehatan kulit (gut-skin axis), di mana keseimbangan bakteri baik dapat membantu mengurangi peradangan sistemik. Meskipun demikian, efek positif ini seringkali teredam oleh dampak proinflamasi dari IGF-1 yang disebutkan sebelumnya.