POLA JABAR – Ketupat telah lama menjadi ikon tak tergantikan setiap kali Idul Fitri tiba. Namun, di balik kelezatannya saat disantap bersama opor ayam, kudapan berbahan dasar beras ini menyimpan filosofi yang sangat mendalam.
Diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai salah satu sarana dakwah, ketupat bukan hanya soal mengenyangkan perut, melainkan simbol kesucian hati.
Berikut adalah beberapa makna filosofis yang terkandung dalam sebutir ketupat:
1. Ngaku Lepat (Mengakui Kesalahan)
Secara harfiah, kata "ketupat" atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari ngaku lepat. Hal ini sejalan dengan tradisi sungkeman atau saling memaafkan saat Lebaran. Dengan menyajikan ketupat, seseorang secara simbolis mengakui kesalahan yang pernah dilakukan kepada orang lain dan siap untuk membuka lembaran baru yang lebih bersih.
2. Laku Papat (Empat Tindakan)
Selain mengakui kesalahan, ketupat juga melambangkan laku papat atau empat tindakan utama dalam merayakan hari kemenangan, yaitu:
- Lebaran: Pintu ampunan telah terbuka lebar bagi sesama.
- Luberan: Melimpahnya rezeki yang harus dibagikan melalui sedekah.
- Leburan: Meleburkan dosa dan kesalahan yang telah lalu.
- Laburan: Berasal dari kata labur (kapur putih), yang bermakna menjaga hati tetap putih dan bersih.