POLAJABAR.COM - Kepastian operasional Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati kini menjadi perbincangan hangat menyusul kembalinya status komersial Bandara Husein Sastranegara di Bandung. Keputusan ini secara otomatis menimbulkan pertanyaan besar mengenai peran Kertajati ke depan dalam sistem transportasi udara Jawa Barat.
Sejak tahun 2023, mayoritas penerbangan komersial jenis jet telah dipindahkan dari Husein menuju Kertajati. Langkah ini dilakukan dengan harapan agar BIJB dapat segera menjadi gerbang utama transportasi udara di wilayah Jawa Barat.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa perkembangan aktivitas penerbangan komersial di Kertajati belum mencapai tingkat yang diharapkan sesuai proyeksi awal. Hal ini memicu evaluasi ulang terhadap model operasional bandara tersebut.
Di tengah ketidakpastian komersial tersebut, muncul spekulasi kuat mengenai perubahan struktur pengelolaan Kertajati. Ada indikasi bahwa pengelolaannya akan diserahkan kepada institusi lain di luar otoritas bandara komersial konvensional.
Kabar yang beredar menyebutkan bahwa nasib Kertajati akan dialihkan sepenuhnya pengelolaannya kepada Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Pergeseran fokus ini didasarkan pada kebutuhan strategis pertahanan negara di masa mendatang.
Proyeksi utama dari pengalihan pengelolaan ini adalah menjadikan Kertajati sebagai pusat Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) pesawat angkut berat. Fokus spesifik adalah pada perawatan dan pemeliharaan pesawat jenis C-130 Hercules untuk kebutuhan kawasan Asia.
Hal ini diperkuat dengan adanya pernyataan yang mengindikasikan arah kebijakan tersebut. "Hampir pasti [Bandara Kertajati] akan dikelola oleh Kemenhan," sebut pihak terkait, menandakan pergeseran prioritas operasional bandara tersebut.
Dikutip dari sumber informasi yang mengulas perkembangan ini, rencana tersebut bertujuan mengoptimalkan aset bandara untuk fungsi pertahanan dan logistik strategis, bukan sekadar penerbangan sipil komersial biasa.
Kondisi ini kontras dengan upaya awal ketika Kertajati diresmikan sebagai bandara pengganti Husein untuk penerbangan komersial. Kini, fokusnya diarahkan untuk mendukung kebutuhan logistik dan perawatan alutsista udara kawasan.